Senin, 31 Desember 2012

Broken Capsule

aku pernah bahagia tanpamu, bila sekarang aku harus terbiasa tanpamu itu tidak akan pernah sama lagi


Yuna mengarahkan matanya pada lampu kota yang sedikit berwarna kuning. Terang tapi tidak menyilaukan. Gerimis, pikirnya.

*

Kau tau Prada? Hujan itu romantis, ucap Perempuan yng terbalut cardigan cokelat tua itu. Lelaki disampingnya hanya tersenyum kecil, memperlihatkan lesung pipinya

*

Bingar pesta tahun baru membuatnya sedikit bosan. Berulang kali melirik jam tangan, menunggu pergantian tahun. Ia bosan.

*

Aku tak memintamu menunggu. Aku pun tak pernah yakin

*

Yuna melepas mantelnya, gerimis sudah reda. Bulan purnama menunggu juga pergantian tahun, sama seperti sekitar 1000 orang di lapangan ini. Yuna tersenyum sinis melihat langit di lapangan itu.

*

Kita melihat bulan purnama yang sama. Ucap lelaki itu tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.

Menurut mitos di Jepang, jika 2 orang yang berjauhan melihat bulan yang sama, maka bisa terlihat wajah orang yang ia rindukan, Yuna membetulkan letak ponselnya ditelinga. Sambil melihat purnama di kota yang berbeda oleh lawan bicaranya

*

"Apa resolusimu tahun depan?" wajah polos Tyo membuatnya tersentak dari lamunannya.
Yuna hanya mendesah pelan.
"Aku tidak membuat resolusi apapun. Aku diharuskan."
Kening sahabatnya berkerut, kemudian menundukkan kepalanya tanda menyesal pada pertanyaannya barusan.
"Tapi kau masih bisa membuat harapan kan¿" lanjut Tyo. Perempuan dihadapannya tidak langsung menjawab. Memasukkan sepotong brownies ke dalam mulutnya.
Sabtu sore terakhir tahun itu.

*

Aku tak pernah berhenti menunggu, meski ini lebih layak disebut penantian.

15 Desember
Angin terasa dingin akhir tahun ini. Perempuan itu merapatkan Jaketnya. Jika tidak terpaksa ia memilih untuk tidak keluar hari ini.
Tepat di bawah pohon besar di sudut kiri jalan, Yuna berhenti.
Tak ingin melanjutkan perjalanannya. Lelaki yang selalu ada dipikirannya sedang memberikan beberapa buku pada perempuan yang kemudian memasuki rumah biru pudar itu.

Lelaki berwajah sendu itu masih tersenyum sedikit saat meninggalkan rumah itu.
Kemudian tatapannya bertemu dengan Yuna.

Sejak kapan?, tanya Yuna hampir berbisik.

Sejak Pergantian musim terakhir. Lelaki itu hampir meminta maaf.
Perempuan dihadapannya tersenyum.
Kau hanya harus percaya Prada. bisik Yuna, tepat saat ia melangkahkan kaki pertamanya. Meninggalkan Prada.


*

"Aku tak perlu membuat resolusi"
Yuna menjawab sambil mengaduk float miliknya.
Tyo menunggu,
"Aku hanya berharap, tahun ini tak pernah ada. Jika memang harus ada, aku tak ingin punya ingatan tentangnya" Yuna masih mengaduk gelasnya, tersenyum.

***

Jika aku harus hidup tanpamu sekarang,....
Aku ingin menghabiskan tahun tanpa pernah memiliki ingatan tentangmu



31 Desember, malam tahun baru

posted from Bloggeroid

Rabu, 26 Desember 2012

Lost Capsule

pertemuan tak selalu dengan orang baru, terkadang waktu mengirimkan orang dari masa lalu


Kaki kaki kecil itu melangkah bergegas meninggalkan percikan comberan di sepatunya.
tak peduli sepatu pink pudarnya sedikit kotor.

hampir terlambat, pikirnya.

Tiiiiinnn.....

sebuah angkot membunyikan klakson di belakangnya. Perempuan itu menggerutu pelan. Menelan umpatannya, melihat supir yang berwajah sangar nyalinya menciut.

Bergegas lebih cepat melangkahkan kakinya. Tepat pada waktu yang di perkirakannya, pukul 09.0 pagi, di perempatan jalan protokol, tepat saat seorang lelaki melangkahkan kaki memasuki bus umum yang penuh sesak.

Sebuah senyum kekecewaan tersungging di bibir kecil berwarna peach itu.
Terlambat lagi, pikirnya.

Tapi seragam yang dikenakan lelaki itu memberi informasi yang lebih dari cukup baginya.

*
perpisahan berarti akan ada pertemuan baru, Yuna

Yuna menyeka matanya yang berair. Melepas Sato, sama saja melepas semua mimpinya. Tapi tak ada pilihan lain. Atau sama sekali tak ada mimpi yang bisa bertahan.

*

"Hai... Theo" sapa perempuan dengan lesung pipi di sebelah kirinya.

Lelaki itu mengerut kan keningnya. Senyum itu, bola mata cokelat yang berbinar, Poni yang sedikit berantakan.

"Yuna...Claira Yuna?" lelaki itu meyakinkan. Perempuan di depannya mengangguk polos, puas berhasil menyapa lelaki yang 3 hari ini dilihatnya tepat di perempatan jalan protokol.

"ya... Theo William..."

Mereka tertawa bersama menunda keberangkatan dengan bus yang berlalu lalang. Memilih sudut sebuah warung sarapan pagi untuk menghabiskan pagi yang sudah lama sekali tidak mereka miliki.

Begitu saja, pagi membawa mereka bergerak mengarungi waktu, kembali ke masa lalu. Tertawa-tawa mengenang masalalu.

***

Seperti dilemparkan waktu dari masa lalu. begitu saja menyapa ku dalam sebuah Pertemuan

posted from Bloggeroid

Sabtu, 22 Desember 2012

Realitas

Kau membuat realita menjadi cinta yang tidak realistis.


"Lo nyadar gak sih Dry?" Theo sedikit membentak.
Audry diam, sedikit terkejut.

"Cinta lo gak realistis." Theo berkata lagi pelan. Hampir menyerah menghadapi sahabat perempuannya.

"Bagian mananya yang gak realistis Theo? Gue sayang Indra, Indra juga. Cuma kami sedang sibuk aja." Audry membela diri.

"Berapa kali dia nanya keadaan lo dalam satu minggu? Berapa kali lo ngkhawatirin keadaan dia?"

"Kita udah dewasa, gak perlu tiap saat BBM an atau telponan kan?"

"Kalo dia sayang sama lo, gak bakal pernah dia lewatin satu hari pun tanpa tau kondisi lo, gak bakal dia bandingin lo sama cewek lain, dia gak baka tega buat lo nunggu, buat lo nangis kayak gini." Theo menunggu Audry membantah. Audry diam.

"Udah berapa kali bajingan itu janji sama lo, gak ditepati?" Theo menggeram.

"Yo..." Audry menahan tangis.

"Oke, lo ikut gue sekarang." Theo tak menarik tangan Audry. Hanya membawakan tas berwarna camel milik Audry. Audry bergegas menyusul Theo.

Gue udah bilang berkali-kali Dry. Lo gak pernah mau dengerin gue, Dry.
Bisik Theo dalam hati.

Theo menghentikan langkahnya didepan sebuah cafe. Melihat kebalik kaca jendela cafe tersebut dengan tatapan kosong. Audry berhenti disamping Theo. Mengikuti arah pandang Theo.

Indra, lelaki yang sejam lalu membatalkan janji bersamanya sedang menggenggam tangan perempuan dihadapannya.

"Farah?" Ucap Adry tertahan. Menoleh kepada Theo, meminta penjelasan.

"Ini yang selalu lo bilang cinta yang realistis? Pacaran orang dewasa? Sh!t..." Theo memaki pelan. Audry terdiam. Theo menarik tangan Audry menjauhi tempat itu.
Audry tak banyak bicara.

"Sejak kapan lo tau?" Suara perempuan itu sedikit parau.

"Sejak gue ngerasa hubungan gue dan Farah gak se- realistis yang lo bilang, Dry"



Realita-nya kau tak memberikan cinta. Tapi kenapa sakit ini terasa nyata?



posted from Bloggeroid

Jumat, 21 Desember 2012

Aku kuat.

Kau pikir akan bisa menghancurkan hatiku.
Puhhh
Terlalu angkuh kau merasakan bahwa aku telah tunduk padamu.
Kau pikir aku selalu membanggakanmu hingga aku terlena dengan semua bualanmu.
Cih...
Aku sudah belajar tentang penghianatan, tentang penghinaan, sejak aku belajar berdiri.

Kau harusnya tau, aku membuat diriku terlihat.
Meski sinarku hanya kecil saja.

Kau lagi lagi salah jika menilai aku dengan materimu.
Lagi lagi tujuanmu hanya menjatuhkanku.

Jika itu yang membuatmu puas, aku akan menjatuhkan diri.

Kau lupa, aku selalu perhitungan.
Agar ketika aku jatuh, aku tak kalah sepenuhnya.

Aku tak akan pernah membuatmu menyesal.
Aku hanya akan membuatmu sadar, bahwa aku tak serendah yang kau pikirkan.

posted from Bloggeroid

Kamis, 20 Desember 2012

Apa yang kusebut Candu

Aku tidak ingin hari ini ada.
Entah...
Tidak ada yang kurang dari hari ini.
Semua berjalan sesuai rencana.

Mungkin aku hanya takut merasakan bahagia,
Aku takut candu
Karena aku tahu bahagia itu tak pernah bertahan lama,
Atau sebenarnya hanya semu belaka.

Entahlah, aku takut kecanduan.
Karena aku tak pernah tahan atas efek candunya.

posted from Bloggeroid

Rabu, 19 Desember 2012

Kenangan

Aku hanya ingin mengenangmu sekarang.
Sebentar saja jika kau twk keberatan.
Mengenang senyummu.
Mengenang suaramu yang parau.
Sifatmu yang keras kepala.
Ah aku seperti telah mengenalmu begitu lama.

Ada yang terlupakan?
Makanan favoritmu..
Aku tau, bebek goreng buatan ibumu kan?
Kesukaanmu yang selalu berubah ubah.

Ah itu 2 tahun silam.
Saat aku masih menaruh hati pada
lelaki yang membiarkanku sendiri.
Ditengah hujan.

posted from Bloggeroid

Jumat, 07 Desember 2012

Gift for me



yiippii.....
this is mw birthday gift.

telat sih. tapi aku senengggg banget thx so muach deh buat Marina Aprina, Budi Hardiansyah, Syofia, Sri Wahyuni, Rikky Suhanda.
its Great I have best friend like you dear....

posted from Bloggeroid

Rabu, 05 Desember 2012

Sebentar lagi

Tuhan aku hanya sanggup bertahan sedikit lagi.
Bisakah segera kau kirim pertolonganmu?
Aku tak sanggup bertahan lebih lama lagi.
Aku hampir mati, kehabisan harap, kehabisan mimpi.

Tuhan, aku mohon

posted from Bloggeroid

.

Aku benci morning text.
Aku benci pesan pesanmu
Aku benci ketika aku terbuasa dengan itu.

Aki benci kekosongan.

posted from Bloggeroid

Jumat, 30 November 2012

Caranya?

Aku mungkin bukan Karang yang bisa merasakan apa yang dirasakan anak kecil. Bukan Karang yang hanya dengan menyentuh anak kecil, maka anak kecil itu berhenti menangis.

Tapi aku seperti dia yang membuat Melati yang tak punya akses ke dunia menjadi mengenal dunia. Aku ingin membuat muridku mengerti perkalian. Dan aku akan terus mencari jalan keluarnya.

Caranya? Caranya? Caranya?

posted from Bloggeroid

Minggu, 18 November 2012

Kopi Pahit

Seperti kopi pahit yang  habis terteguk, namun menyisakan pati. Membekas.

Berulang kali ku cek ponselku. Nihil. Masih berharap akan ada pesan pesan darnya Yuna? pikiranku mulai menyusun perbincangannya sendiri. Aku berusaha menghindar dari perbincangan itu. kualihkan pandangan ke arah monitor laptopku, mulai mengerjakan proyek yang baru saja kuterima. Sudah cukup mellow-nya. terlalu banyak waktu yang terbuang karena menyesal. Pikirku.  

Ah kau menyesal ternyata Yuna, bisik hatiku menyepelekan.

Bukannya kau, yang begitu pagi datang, memutuskan untuk mengakhiri semuanya. 

Aku menghela nafas.

Bukannya kau yang dengan penuh kehati hatian berusaha untuk menjelaskan bahwa hatimu tak bisa lagi mencintainya.

Bukannya kau juga yang mengambil keputusan untuk menjauh darinya dengan kata kata ketusmu Yuna?

Pikiranku mengeluarkan fakta yang tak mungkin kubantah. Aku benar benar tak bisa melakukan apapun. Nafasku tertahan.

Jangan pernah mengharapkan sisa manisnya Yuna, jika yang kau beri padanya hanya Kopi Pahit.

Hanya akan tertinggal ampasnya, Pahit.


Aku mematikan ponsel, membiarkan laptopku menyuarakan lagu yang pernah kita nyanyikan dulu.
Aku merindukanmu, bisikku.

Aku tau cinta itu terasa berari saat kau telah benar benar pergi.

 


Rabu, 14 November 2012

Unconsistence

Dan sekeping hatiku yang lain memilih pergi menjauh.


"Ah ya Apa kabarnya Ario?" tanyamu sore itu, disebuah cafe langganan yang biasa kita kunjungi,dulu, waktu kita masih bersama. Pertanyaanmu adalah pertanyaan yang paling berat untuk ku jawab. Kau tau jawabannya, masih ada sepotong hatiku yang mencintainya. Kalau kau tidak lupa, aku meninggalkanmu karena dia. Dan kau selalu tertawa kalau mengingat hal itu. Entah menyadiari bodohnya dirimu atau, kebodohan diriku. Aku tak pernah tau pasti.

"Baik." Seperti biasa aku menjawab singkat. dan aku berusaha untuk ketus padamu. Aku mulai mengeluhkan waktu yang berjalan perlahan, amat lambat. Kita menunggu.
"Masih jalan sama Ario?" pertanyaanmu yang sangat tidak ingin kujawab.
"Dia sudah bahagia dengan pasangannya, seperti kau bahagia, dan aku pun bahagia. Masalah aku masih menyimpan rasa, itu masalahku. bisakah tidak usah kita bahas?" jawabku.
Dan kau mulai tertawa.
"Gak ada yang lucu, gak perlu tertawa, terlalu dipaksakan" komentarku ketus.
"Bahagia dan berusaha bahagia itu berbeda" ucapmu. tak kupedulikan, tapi aku mengerti maknanya.
 "Sepertinya aku harus pergi, Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir." Aku tersenyum padamu.
"Bisa kah kita lebih lama disini?" tanya mu hati hati. kemudian Kau melambaikan tangan pada seorang perempuan cantik.
"Akan ada hati yang tersakiti, jika memang harus ada itu aku" jawabku singkat memperhatikan perempuan cantik itu mendekat ke meja kami. 
"Jangan pernah menyakiti dia" ucapku sebelum perempuan itu semakin dekat.
"Tidak akan pernah kusia siakan dia Yuna" jawabmu pasti.
"bisakah kita bertemu lagi?" tanyamu tepat saay perempuan berambut sebahu itu sampai di meja kita.
"Maaf tidak bisa" ucapku sebelum tersenyum pada perempuan itu. dan mengulurkan tangan.
"Kamu pasti pacarnya Fian, Hai aku Yuna..."
"Martha... " jawabnya tersenyum.

kemudian aku permisi dan bergegas meninggalkan tempat itu. meja yang sama sejak kita berkenalan, meja yang sama saat aku menerima rasamu, meja yang sama saat kita menyadari ada yang tidak sejalan, meja yang sama tempat aku meninggalkan semua kenangan kita.
meja yang sama ketika aku merasa "Berusaha bahagia dan tidak menyia-nyaiakannya" terdengar tidak sejalan. 









yang blom bisa q jelasin

ada banyak hal yang blom bisa ku jelasin sama ayah mungkin salah satunya.

Pilihan keluar dari instansi ini bukan karena aku tak sanggup kerja disini. Toh aku bisa bertahan sampai saat ini, aku bisa mengatasinya. tapi ada yang sulit dijelaskan, passionku gak disini, Aku rela kan gak dibayar ketika aku bekerja sepenuh hati.

Aku rela capek, gak tidur, dan lain sebagainya  asal aku bisa berbagi. That's simple. that why I've got my tittle. karena aku tau pemerintah gak akan bisa terjun langsung sampai ke lapisan paling bawah negeri ini. kare itulah aku selalu berkata "aku gak kepingin banget jadi menkes, karena aku sadar ketika aku jadi menkes, akan terlalu jauh jarak untuk mencapai masyarakat kecil"

mimpiku dari kecil sederhana, aku pengen punya rumah sakit biar kalo ada nenek nenek berobat, bisa gratis.

simple kan...

tapi sayang ayahku toh gak setuju, dia malah nyuruh aq kerja di tempat yang tetap. yang gajinya perbulan tetap. yang ada pensiunannya, aku tau mereka mau anaknya bahagia.

padahal aku cuma mau cerita kalo aku baru dipercaya nyusun program kegiatan buat satu tahun, udah ada yang siap buat jalin kerja sama yah...

malam ini aku benar benar kecewa sama diriku sendiri... :(

Hal terburuk

Hal terburuk yang bisa terjadi selama daur kehidupan adalah bertengkar sama orang tua cuma gara gara alur pikiran tentang masa depan itu gak sejalan.

Jumat, 09 November 2012

friendsh*t

Taee kalo ngomongin masalah friendshit. yg ada juga kepentingab pribadi disana. gg ada persahabatan abadii tuu. trust me deh. berapa persen sih orang orang yg udah sukses, yg udh pny pcar yang udah jadi org hebat masih inget sahabatnya?

kasi tau klo udah dpt datanya.

emang gak ada persahabatan abadi yg ada kepentingan abadi.

posted from Bloggeroid

Insomnia 51 kata



3 jam 24 menit dari pukul 10 malam. Usaha ku sia-sia. Masih ada gelisah tersisa. Masih kubiarkan ponselku tergeletak dilantai tanpa nada. Terlalu penat. Atau terlalu rindu. Entah. Kujatuhkan tubuhku ke lantai kamar, meraba ponsel hitam itu. Terperanjat.
14 Missed call.
1 Message.
Aku berada di kotamu sekarang.
Insomniaku tambah parah.

Rabu, 07 November 2012

Maaf yang menggantung


"Kapan lagi Alika?" tanya mama lembut.
tapi aku tahu, dibailk kelembutannya, ia menyimpan harap yang sangat besar. hanya satu harapannya sejak aku mendapatkan pekerjaan itu, ia ingin melihatku menikah. memiliki pendampinghidup, kata ibu begitu.
 Sudah berkali kali, bahkan aku hapal sekali bentuk bentuk pertanyaannya.
"Udah ada calonnya?"
"Orang mana nih calonnya Alika?"
hingga pertanyaan...
"Duh mbak, ntar kalo mbak gak merried, kapan dong saya merriednya?" ucap sepupuku guyon.
Aku hanya tersenyum saja, memberikan jawaban paling sempurna dengan lengkungan bibirku yang artinya aku tidak ingin menjawab apa apa.
Malam ini mama mengundang temannya datang makan malam, bersama seorang anak laki lakinya. Perjodohan. ah, cerita lama pikirku. Aku hanya berbasa basi sekedar menjaga sopan santun.
tak ada lagi alasan untuk menunda pernikahan, bisik mama seraya keluar dari kamarku. Aku terdiam.

Pikiranku tak lagi bisa terkoneksi dengan bibirku, seolah olah mereka bekerja sendiri sendiri dalam mode default, pun begitu dengan hatiku, tak lagi dapat merasa lebih tegar sedikit lagi untuk tidak memancing gravitasi air mata.

Ma maafkan aku, tak pernah terbayangkan wajah cemasmu saat usiaku mulai bertambah dan kau belum menyebarkan kabar bahagia itu.
Ma  maafkan aku, telah memberikan seluruh hatiku pada pria lain,
lelaki yang kuharapkan akan memanggilmu ibu, 
lelaki yang kuharapkan akan menjadi imamku,
lelaki yang ku harapkan akan selalu kutunggu kedatangannya setiap hari.
yang akan dengan bangga kau perkenalkan pada yang lain.
dan dia pula yang tanpa permisi pergi begitu saja.
membawa seluruh hatiku yang utuh.
maafkan aku ibu, telah ceroboh memberikan seluruh rasaku padanya. 
Menitipkan seluruh hatiku padanya,
Hingga tak ada lagi yang tersisa 
selain asa 
selain luka.

Ayah, maaf...
Tak bisa kutemukan lelaki yang kau impikan
lelaki yang kau harap lebih baik darimu.
yang bisa memberikan apa yang kupinta,
yang bisa menjagaku lebih baik darimu,
lelaki yang kau pintakan juga untukku dalam setiap doamu.
aku mencintai dia 

Maafkan aku
Hati ini telah dimiliki oleh dia, 
Tak ada lagi sisa hati yang pantas untuk sekeping hati yang lain.

Pikiranku ingin meneriakkan kata kata itu dengan lembut di pelukan orang tuaku. Tapi badanku kaku. Hanya buih putih keluar dari bibir merahku. Setelah hampir sebotol ku telan obat tidur.

beberapa menit berikutnya tak lagi kudengar mama berteriak....

"Alikaaaa..........." sambil memeluk tubuhku yang terbujur kaku.






Rabu, 31 Oktober 2012

Memoar kala hujan

apa yang ada dibenakmu saat titik hujan mulai membentuk titik2 di kemejamu.
saat percikannya mulai menjamu dingin yang mengajak tanganmu mendekap erat.
saat kesibukan terasa sedikit buram.
yang ada hanya kelabu sisa mendung barusan.









Minggu, 28 Oktober 2012

Aku, ibumu dan hati yang lain.

"Adit"
"Namanya Aditya Prada"  lanjutku, perempuan itu mengusap matanya yang masih basah. Dia masih tak mengerti.
"Pria itu lah cinta terakhir ibumu. Tempat dimana dia menyerahkan seluruh hatinya." aku memulai cerita. Perempuan itu masih sedikit terisak.
"Cinta tak harus memiliki, kau pernah dengar yang seperti itu kan?" perempuan itu mengangguk.
"Ibumu tak memberlakukannya dalam hidupnya. Bagi ibumu jika dia benar benar sayang, maka seharusnya ia tak pernah melepaskannya"  Perempuan itu memandang menunggu penjelasan.
"Pada akhirnya ibumu sadar, pria itu tak benar benar menyayanginya. hingga ia pergi tak sekalipun pria itu berusaha mencari tahu. Kau tau Ladisha? Ibumu masih saja menunggunya dengan setia." Aku tersenyum.
"Prada. Kau pasti tak asing dengan nama itu. Nama yang sering digunakan ibumu dalam setiap tulisannya. Setiap ceritanya adalah sepotong kehidupannya ditambah mimpi mimpi ibumu."
"Kau mencintai ibu?" Perempuan itu memotong kalimatku dengan pertanyaannya.
"Hingga akhir bilangan hidupku Ladisha." jawabku tegas.
"Meskipun kau tau ibuku mencintai Prada-nya?"  tanya Ladisha ragu.
"Ibumu tak pernah ragu pada ku. Kau lupa Ladisha, bagi ibumu cinta adalah tidak pernah melepaskan. Ibumu tau, aku tak pernah melepaskannya dalam kesendiriannya seperti Prada."
"Kau tak pernah cemburu?"
"Karna aku tau Ladisha, hanya hatiku yang dimilikinya sekarang, sejak ia menyerahkan seluruh hatinya pada pria itu." Aku tersenyum.

"Kau lelaki yang kuat ayah..." ucap Ladisha memelukku.

masih

ya.. aku masih merindukanmu hingga kini
hingga malam menyeruak masuk ketidurku.

aku masih merasakan panas dimataku bila ku ingat kejadian kemarin.

ya aku masih merindukanmu.

Jumat, 19 Oktober 2012

Melarikan diri

Aku tau melarikan diri pada kesibukan akan sangat melelahkan.

tapi hanya itu cara yang ku tahu.

Kamis, 18 Oktober 2012

Karma

Tuhan mungkin ini saatnya aq menerima pembalasan darimu.

Aku terima kalay ini yang bisa membuatmu mengampuniku.

posted from Bloggeroid

Rabu, 17 Oktober 2012

Cepat besar ya...

"bu... Tanggal 22 oktober ya bu"
"bu hari senin ibu datang kan?"
"bu ibu bawa kado apa nanti?"

Itu sederet pertanyaan muridku. Yap, 22 Oktober nanti muridku yang paling kecil ulang tahun.
Bukan hanya karena dia yang paling kecil, tapi sepertinya itu adalah hari yang paling di tunggu.

Sama seperti hari khatam Iqro' nya kemarin. Dia yang paling istimewa, dengan acara sederhana tapi tetap saja istimewa dibanding kakak dan abangnya. Hanya ada keluarga, guru ngaji, mak uo, dan aku. Terasa khidmat lah acara itu.

Kali ini juga pasti akan istimewa. Bukan acaranya, tapi pengakuan bahwa ia telah semakin dewasa, semakin bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Selamat ulang tahun adik kecilku.
Cepatlah besar, beranjak dewasa dan jadi apa yang hatimu inginkan.
Semuanya mendukungmu.

Kau tau, dirimu itu istimewa.

posted from Bloggeroid

Jumat, 12 Oktober 2012

Capsule 1 : First Capsule

"Rave... " aku mengetuk kamar kos kosan Rave. sudah sepuluh kali ku miscall ponselnya tak ada jawaban. yang kesebelas kali, sepertinya ponselnya mati lowbat. Beli hape baru dong Rave... ucapku biasanya komplain padanya, dia hanya menggeleng.

"Rave.." panggilku lebih keras. Rio, teman sekamar Rave yang keluar.
"Rave lagi mandi tunggu diluar aja Dish." aku tersenyum. Menunggu di luar kos kosan rave membuatku jengah kadang. Ada saja teman teman Rave sesama anak kos-kosan cowok yang iseng menggangguku. Rave selalu bilang "Karna lo cantik" aku cuma nyengir.
Hari ini aku sudah berada di depan kos kosannya. Kulirik jam tangan gambar Doraemon ditanganku 08.00. pantes saja Rave baru bangun. Hari ini aku mengenakan jeans biru pudar dan kaos kuning pucat yang kemudian kupadukan dengan topi biru tua .
"Berisik lo ah " Ucap rave begitu keluar dari kamar. Aroma sabun menguar dari tubuhnya. Segar.
"Kan udah gue ingetin lo jangan telat. udah waktunya nih. hihihih " aku mengelak dimarahin akibat ulahku membuat rusuh kos-kosannya pagi ini.
"Iya gue inget. gue ngerjain laporan tadi malam."
"Sorry..." ucapku sambil tersenyum manis.
"yuk ah. udah sarapan lo ?" tanya Rave. Tepat pada saat itu perutku berbunyi.
"Belom tuh hahahahha" Rave tertawa puas kemudian menghidupkan motornya. menyuruhku naik ke boncengannya kemudian membawaku ke tempat sarapan favorit kami.
"Bang, bubur ayamnya 2 ya, yang satu kerupuknya dibanyain.yang satu sambelnya yang banyak." kemudian Rave menoleh ke arahku. porsi yang sambelnya banyak itu memang dipesankannya untukku.
***
Hari ini tepat setahun kami mengubur Time Capsule di belakang perpustakaan kampus. Aku tau itu adalah tempat yang jarang dikunjungi mahasisa, karena untuk pergi kesana hanya bisa dilakukan dengan memutari perpustakaan kampus yang besar.
"Cepetan udah gak sabar" ucapku.
"Iya nih, seinget gue gue ada nyimpen uang seratus ribuan, lumayan lah buat akhir bulan. Aku nyengir Time Capsule itu tidak begitu saja tertanam di dalam tanah. kami hanya menimpanya dengan beberapa batu besar bekas reruntuhan perpustakaan lama.
Aku membuka kaleng biskuit yang ku sebut Time Capsule itu. Kuserahkan bungkusan hijau miliknya dan bungkusan kuning milikku.

Aku membuka bungkusan ku, isinya foto kami saat lulus SMA dengan baju yang masih bersih dan sengaja kutulis dibawah fotonya "tidak ada yang boleh mengotori persahabatan ini. Aku tersenyum dan memberikan foto itu pada Rave. Ya.. foto itu seharusnya berada pada Rave. Aku menikmati setiap saat persahabatan kami. hingga saat ini. isi bungkusanku hanya foto itu dan sebuah surat kecil.

Setahun kemudian,
Waktu berlalu. Kita berhasil menangkapnya dalam kapsul ini, paling tidak kita tidak termakan waktu, karena ada alasan untuk tetap ADA. Ada hal yang bisa saja kita lupa, karena mungkin terlalu banyak hal penting untuk di ingat. 
Terima kasih mau menangkap waktu bersamaku Rave.

Surat itu kuberikan pada Rave. Rave tak membacanya, kemudian berteriak.
"Dish, gue punya uang seratus rebu lagi..." ucapnya menunjukkan uang seratus ribuan yang disimpannya setahun lalu.
"Tunggu ada tulisannya." ucap rave, kami melihat secarik post it yang ditempeldi uang tersebut.
"20% milik Ladisha " Hahaha aku tertawa, setahun lalu Rave punya janji akan membelikanku eskrim cokelat kalau Time Capsule ini berhasil. kemudian kurebut surat yang sedari tadi tak dibuka oleh Rave.

Setahun lagi. 
Kalau memang surat ini berhasil disimpan dan tidak hilang.
itu mungkin Ladisha yang menyimpannya. 
ini kegilaan Ladisha.
Impianku, aku harus menang Lomba Karya Tulis. 

Itu saja? Pikirku, apa lagi yang kuinginkan. huuhh aku menghembuskan nafas panjang.

"Gak piutis.." ucapku.

Rave menarik suratnya, "Gue bukan penulis fiksi kayak elo, yang gue tulis yang apa adanya."


Kamis, 11 Oktober 2012

Kebahagiaan Penulis

Apa kebahagiaan seorang penulis?
Mungkin bagi beberapa penulis kebahagiannya adalah ketika karyanya naik cetak, diterbitkan oleh penerbit terkenal, atau selesai sesuai deadline.
Aku mungkin masih seorang penulis amatir yang menuangkan isi pikiran, perasaan dan kehidupan ke dlam tulisan sederhana. tapi sebuah kebahagiaan jika ternyata tulisan itu dibaca oleh orang lain, dan di SHARE.
bagiku sesuatu yang dibagikan atau di share kepada orang lain adalah sesuatu yang menarik atau bermanfaat.
Siang ini, iseng iseng aku mencari namaku sendiri di kolom pencarian google. dan beberapa tulisanku terdapat di forum yang cukup terkenal, KASKUS. yak betul. dan meskipun pecandu dunia sosial media, aku tak punya akun di Forum tersebut.
sebuah kebahagiaan melihat tulisan ku di publish oleh orang lain, lengkap dengan penulisnya dan sumbernya.. :)

Rabu, 10 Oktober 2012

Di- Ter- Me

Di suatu malam semua bisa terjadi dari satu benang merah yang dinamakan rasa. Di beberapa tempat sekaligus.
Ada yaang meyakiti tanpa tau alasannya, ada yang Di sakiti oleh yang menyakiti. Ada tang Tersakiti tanpa sengaja.
Itulah alasan mengapa karma itu ada. Karena hidup itu sekumpulan sebab akibat. Sekumpulan benang merah yang terjalin sempurna.
Dan untuk itu, aku siap menanggung karma ku sendiri. I have to.

Selasa, 09 Oktober 2012

An angle

I believe in angel
Something good in everything I see.

Akhirnya aku tau maknanya. Yess...

Tadi sore pulanh naik angkot. Baru nyadar uang d dompet cuma ada seribuan dan lima puluh ribuan.
Cari tukaran dengan penumpang lainnya, gak ada yang punya.
Pas turun, dengan angkuhnya supir angkot nyuruh cari ongkos sampe dapet. Untung aja ada kakek kakek cuma tukang becak barang. Tapi mau minjemin uangnya buat ongkos. Dan bahkan dia ngasi tau dimana bisa tukar uang.
Orang baik itu tidak dilihat dari pakaian. Sekalipun PNS belum tentu baik.

Senin, 08 Oktober 2012

Ladisha : The Script 2

Di suatu tempat, Disuatu masa.

Suatu hari nanti Rave, kau akan bahagia. bukan denganku. entah dengan siapapun itu. mungkin Fira.
tapi siapapun dia percayalah, ada sekeping hatiku disana. untuk tetap mencintaimu.
Suatu hari nanti saat kita telah sama sama dewasa, bukan lagi remaja yang labil, semoga kita masih bisa menyimpan mimpi mimpi kita. masih bisa tertawa saat lelucon konyol yang hanya kita berdua yang tau.
Aku pasti merindukan hal itu.
Kau tau, kebahagiaan seorang wanita adalah ketika ia bisa menikah dengan cinta pertamanya. Kau tau Rave? karena bagi wanita itu cinta pertamanya adalah cinta yang paling istimewa.
tapi bagi pria, menikah adalah waktunya berkomitmen pada wanita yang ia cintai terakhir kali.

Ada rahasia kecil yang setiap orang sembunyikan.
"We all have secrets. The ones we keep, and the ones that are kept from us" - The Amazing Spiderman
tapi suatu saat rahasia itu akan diketahui, Rave. Seperti yang kau bilang. Rahasia itu ada untuk diketahui. benar kan Rave?

Seperti yang selalu kau ajarkan padaku, waktu bisa jadi segalanya. Mungkin kali ini waktu akan membukakan rahasiaku untukmu.
Aku ingin menjadi cinta terakhirmu Rave, kau tau kenapa? karena kau yang pertama membuka sangkar kupu kupu itu. menyebabkan geli di hatiku.

Tentang Sato. Sebenarnya dia tidak pernah ada. Aku hanya mengambilnya dari nama belakangmu. Revan Satria Sasongko. Sat-o

Setiap seniman memiliki sumber inspirasi, mungkin suatu saat aku akan berhenti menulis ketika aku kehilangan inspirasiku. Kau tahukan nama dinovelku selalu Sato? Setiap bersamamu selalu ada yang pantas untuk dibagikan ke dunia.

Sepuluh tahun, aku tahu itu masa terindah yang dibagikan waktu padaku.

Tentang Kita. Agar tak termakan waktu. 





Minggu, 07 Oktober 2012

Ladisha : The Script

"Sato" bisik Alita
Sato terdiam. tak menyangka kalau Alita juga ada disana. Alita mengenakan jacket merah maroon, warna favoritnya. Alita mendekati Sato menunjukkan jam kecil pemberian Sato yang berbentuk kalung.
" Kau benar, waktu bisa menjadi segalanya" ucap Alita.
"Diantara sekian manusia, sejuta tempat, dan banyak malam. kenapa justru malam inikau dan aku berada disini? tidakkah kau pikir ini permainan waktu?"
Sato membuka mulut hendak berbicara, Alita memotongnya dengan cepat.
"Waktu itu seperti mesin bergerak To. Benar, seperti bandul jam ini. semua komponennya bergerak tak berhenti untuk berputar terus menerus. karena kalau sedetik saja salah satu geriginya berhrnti. dia tidak akan berhasil menunjukkan waktu" ucap Alita tegas.
Dan kemudian, Alita meninggalkan Sato. Berdiri terpaku menatapnya sebelum kemudian seorang perempuan memanggilnya dari belakang.
"Papa...." ucap perempuan kecil itu bersama seorang wanitadengan terusan hijau tosca.

Alita mendengar panggilan perempuan kecil itu. tanpa menoleh ia berbisik pada dirinya sendiri.
"Waktu benar-benar bisa membuka semua yang tersembunyi" 
Air matanya mulai mengganggu pengelihatannya.

Ladisha menutup notebooknya. Sudah mencapai ending yang dia inginkan. Cerpen miliknya kali ini sangat ia harapkan terbit di majalah perempuan. Hanya karena Ladisha butuh sekali uang untuk membeli sesuatu. Untuk Rave.

Cerpen ini dari Rave dan untuk Rave, Ladisha banyak mengutip kata-kata Rave. Jadi apa salahnya Ladisha memberikan sesuatu untuk sahabatnya itu. Ladisha langsung mengambil ponselnya ketika terdengan suara getaran.

Sorry Dish, gw gak bisa nemenin lo. Gw mw jemput Fira.

R-Ave

Ladisha menghela nafas panjang. menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur dan menggumam.
"Bodoh, kenapa aku lupa jadwal Rave menjemput Fira"


Jumat, 05 Oktober 2012

Rave : Ambiguitas Rasa

Bagaimana mungkin aku hidup dengan mu jika bersamamu saja membuat aku jengah. pikir Rave.
lelaki itu mulai lelah dengan ocehan Fira, perempuan cerdas dengan sejuta pesona. tak ada yang memungkiri bahwa Rave dan Fira pasanga paling sesari di kampus. Zafira yang begitu anggun dan cerdas bersanding dengan Rave, Bintang kampus dengan status mahasiswa berprestasi. ditambah lagi nilai plus matanyayang cokelat dan kulitnya yang putih membuat dia bersinar diantara teman teman seangkatannya. bukan hanya seangkatan, se antero kampus. pasti kenal Rave. Kandidat ketua BEM yang memilih mundur karena ketahuan timnya melakukan Black Campagne.

Rave berulang kali melirik arlojinya, sebentar lagi jam 4 pikirnya. aku harus bergegas.
"Fir, aku pulang dulu. sampein salam sama mama papa kamu ya." uapan Rave menghentikan celoteh Fira tentang kompetisi karya tulis yang diikutinya. Fira hanya mengangguk.
"Okey, besok kita ketemu lagi kan sayang." tanyanya sambil mengantar Rave ke halaman depan. Rave hanya mengangguk. Tidak mengerti dengan perasaannya. ada yang kurang dari Fira. pikirnya. entah apa itu. Hatinya seolah tidak mampu membuka sangkar kupu kupu yang dulu sering kali berterbangan di dalam perutnya.

Rave bergegas, hujan sudah dari tadi jatuh, banjir setinggi mata kaki dimana-mana. Rave memacu motornya lebih cepat lagi.
"Semoga gak mogok" doanya dalam hati.
betul saja, perempuan berambut ikal itu menundukkan kepalanya di bawah halte bus. bukan malah menunggu bus yang akan dinaikinya.
"Ladisha" bisik Rave. Tak berani mendekat. Sudah hampir dua tahun Rave tak berjumpa dengan perempuan itu. tiba tiba saja Ladisha menghilang dari kehidupannya. Baru beberapa hari ini saja ia mulai menemukan Ladisha di halte yang sama setiap sore. Ada yang menahannya mendekati Ladisha. Entah apa. Wajah sendu perempuan itu membuatnya takut mendekat. membuatnya takut bahwa luka yang dulu dibuatnya akan terbuka lagi. Rindu, Rave bahkan sangat merindukannya. lagi lagi hari ini dibiarkannya perempuan itu pergi tanpa menyapanya.Hujan sore itu sudah memuat kuyup pakaiannya. ia harus bergegas pulang kalau tak ingin besok terserang flu.
Ada yang tak dilihat Rave, air mata Ladisha yang tersamarkan air hujan.


Kamis, 04 Oktober 2012

Ladisha : Coretan dibawah hujan

Hujan, Basah... ucap perempuan itu menggumam. keciprat air terdengar seharmoni, meski kadang diganggu oleh klakson bis kota yang tak sabar ingin pulang. mungkin anak anaknya menunggu, pikir perempuan itu.
perempuan itu bosan menunggu hujan berhenti. menunggu lagi, katanya dalam hati. Aku bosan..
dikeluarkannya ponsel nya, sengaja ditutupnya aplikasi chatting di ponselnya. ia sedang tidak ingin diganggu.

"When the rainy begin, I just wanna be alone"

kemudian dibukanya aplikasi diary nya di ponsel tersebut.
perlahan jarinya memilih huruf huruf yang mulai bermunculan di layarnya, dia sedang mengetik.

Aku rindu, dengar kah kau suara hatiku yang seolah ingin menjerit.
Aku rindu peluhmu, Aku rindu tawamu. Hangat.

perempuan itu menutup catatannya. tersenyum seolah ia bertemu dengan seseorang yang dinantikannya.

"Rave... aku harus pergi"

kemudian hujan mereda. tetesnya tinggal satu satu, menimbulkan titik titik di baju Ladisha.

Ladisha tak menyadari ada yang menunggunya diseberang jalan, dengan payung biru, mencari cari gadisnya. Setiap sore.

Rabu, 03 Oktober 2012

I am a writer

tulis tulis tulis..
bisik Ladisha dalam hati. aku mau menulis apa. kali ini pikiran Ladisha benar benar buntu. sudah berhari hari ia hanya membuka laptopnya mengetik sembarang kata kemudian menghapusnya lagi. idengya seolah olah buntu. tak mengalir.

Apa benar aku bisa menulis? pikir Ladisha lagi. perlombaan cerpen itu tinggal beberapa hari lagi. Ladisha sangat butuh uangnya. uang yang dikumpulkan Ladisha saat ini belum mencukupi.
Lagi, Ladisha membuka catatan hariannya,

25 November 2009
Rave jahat, dia mengoyakkan buku yang dikasi oleh kak Sandro.
katanya aku gak boleh nerima pemberian orang sembarangan. apa salahnya.
 Aku berhenti bersahabat dengannya titik.

27 November 2009
Udah baikan sama Rave.. Rave anterin cake pisang buatan mamanya. trus kami makan bareng di balkon rumahku. rave membaca cerpen yang mau kukirim kan ke majalah seminggu lalu. katanya aku berbakat jadi penulis.
Pagi kesekian aku masih menunggu. berharap semua akan lebih baik.
I believe that I am happy without you.....

Ucapan Tulus-Kebahagiaan Sempurna

Selamat....

Begitu saja ucapanku yang terucap dari hatiku.
singkat. tapi tulus.

Aku tidak sedih, aku tidak marah. jujur aku bahagia akhirnya kau mendapatkan yang layak mendampingimu. yang lebih mencintaimu. Gimanapun juga aku tau wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Mungkin aku tidak cukup baik mendapatkan cintamu yang tulus itu. yah.. aku tau kau tulus.
Mungkin semesta memang sudah menuliskan bahwa kita tidak berjodoh. sekeras apapun kau memaksakan. 
Memori itu biarlah jadi masalalu. aku senang bisa berkenalan denganmu, bisa bertukarpikiran dengan orang idealis sepertimu, cukup membuat aku merasa I am loved. yeaahhh...
Jujur aku sempat takut, bagaimana jika kau tak lagi bisa membuka hatimu bagi orang lain hanya karena aku. dan aku senang ketakutanku tidak terbukti.   kalau sempat itu terjadi aku adalah orang paling berdosa dalam hidupmu. Mungkin. Aku takut karma itu masih berlaku. Sukurlah kau merelakan karma itu untuk tidak terjadi.

Pada akhirnya kita tau itu adalah pilihan terbaik  

Sekali lagi, insting perempuanku tak pernah salah. 

Selasa, 02 Oktober 2012

I am a loser

Entah knapa tiba tiba aku merasa jadi orang yang kalah. Kalah dalam segala hal. Materi iya. Semua hal. Seolah aku benar benar gg berhak untuk bisa hidup layak kayak yg lain.
Fee ku tiap bulan cuma habis buat ongkos.
Kelulusanku yang tepat waktu seolah tidak membantu apa pun. Aku hanya merasa yaahh.. Tidak ada yang istimewa dari sebuah gelar.

Kesehatan yang patut kusukuri. Yeah I wish aq masih layak untik mensukurinya. Dengan status kesehatanku yang semakin memburuk.

Yeah I despereate with my life.

Apa lagi sekedar mengharapkan mimpi mimpiku jadi kenyataan. Gg berharap lagi lah.

Aq pengen S2. Biaya dari mana? Gaji cuma segitu. Orang tua ku juga pas pasan.

Capek bgt. Tepatnya aku lelah.
Lelah menjadi pecundang.

God could You help me?

Senin, 01 Oktober 2012

Minggu, 30 September 2012

mungkin perlu..



mungkin aku perlu sedikit berhenti menulis atau membaca novel novel itu.
itu hanya membuatku ingat lagi sama luka yang udag dibuatnya.

dan jujur itu masih sakit sekali.

stuck.

aku kehilangan kata kata. kehabisan inspirasi.

help -_-"

Jumat, 28 September 2012

Prologue : Time Capsule




Ladisha menggenggam tangan perempuan muda itu.
“Kau tau?” bisiknya
“waktu selalu bisa melakukan apapun.”
“Apa saja?” Tanya perempuan itu.
“Ya. Waktu bisa menjadi kunci, menjadi obat, menjadi penentu apakah kau memang berjodoh dengannya atau tidak.”  Mata Ladisha masih memandang jauh ke langit senja di beranda rumahnya. Rumah bergaya minimalis itu memiliki beranda dan taman kecil.
Ladisha mengambil sepotong cake pisang buatan cucunya. Sama seperti lalu lalu, Ladisha memoleskan sedikit cokelat kemudian menikmati cake pisang itu.
“masih sama seperti dulu rasanya” ucap ladisha entah pada perempuan itu entah hanya bergumam.
“Kau tahu tentang Revan?” Tanya Ladisha.
“Perempuan muda itu menggeleng, alisnya berkertut tak mengerti. Tapi wajah sendu Ladisha bersinar.

it is a team?

help me. aku harus segera pergi dari tempat ini.
aku tak bermaksud sok suci. hanya tidak tahan untuk tetap mendengar keluhan mereka.
dan gosip gosip mereka.

aq selalu benci ketika ada yang aku ketahui dan tak bisa kusampaikan. karna memang aku bukan tukang gosip. I hate it.

Kamis, 27 September 2012

(Blurb) Time capsule


Kita hidup di garis tangan kita, bersisian, berbagi, tapi tak pernah saling menyentuh. 
Kau bilang waktu yang akan menentukan.
Kau bilang waktu akan memberi ruang yang tepat. 
Aku selalu percaya, hingga ternyata waktu juga mampu membuatnya menjadi pudar. 
Garis mu perlahan memudar hingga hilang tak dapat kutemukan.
Mungkin waktu pernah tidak tepat.
"Time Paradox" katamu
kita dipermainkan oleh falsafah lama tentang kesabaran pada waktu yang kau bilang tepat.

(cuap-cuap) September's End


Well, september udah mau abis. It's time to make a reflection for this month. 
Ini bulan yang melelahkan. semua ada disini, pindahan, kantor baru, orang orang baru, dan proyek baru. gak lupa nama baru, I have my new tittle. Public Health officer.
I wish semuanya akan lancar di bulan kedepannya.

Yes, absolutely yes, we find a new problem. for example, masalah angkot. jauh banget tauk ke tempat ngajar sekarang tuh. dan angkotnya L.A.N.G.K.A. ampun deh.capeknya jadi dobel. 
Sebenernya masalah di kantor baru ini gak berat berat banget, paling masalah ambil diet dan berbagi kamar dengan mahasiswa, yap saya  tinggal di asrama. tapi dengan status fresh graduated q, q masih di anggap anak kecil.

ada satu luka bulan ini, I'll fix it. I promise. to let someone go for his love. yeah it's hard to feel. but I have to Move On. H.A.V.E. T.O. :)

it's not a nice september like a song that their sing, like this "September ceriaaa......." 
its hard september. I Promise that I can be stronger than before. 

Rabu, 26 September 2012

it's work



memasuki dunia kerja ternyata banyak yang harus di pelajari. mulai dari sosial budaya tempat tersebut hingga karakter orang orangnya dan permasalahannya. jangan lupa menyiapkan penyelesaiannya.

Minggu, 23 September 2012

Playing with funny faces



Lets play babe
















Because sometimes, we have to be silly to get the happiness.

Jumat, 21 September 2012

Basah



Pasca hujan tadi malam. Dinding-dinding masih basah. Masih dingin.
Masih mendung.
Tapi ada harapan bagi mereka yang mengharapkan hujan.

posted from Bloggeroid

Sabtu, 15 September 2012

I have my own character



I never be like her.
Becoz I have my own character.
I am unique.
I may different, but better.
I know. God is fair.
Every hurt, feel, happines and tears will got its consequences.

Jumat, 14 September 2012

Jaga diri



Jaga telinga
Jaga mata
Jaga perkataan

Kamis, 13 September 2012

Langit

Langit itu selalu luar biasa. Dengan pergerakannya yang lambat ia berhasil merubah dunia yang cerah menjadi mendung, atau yang mendung menjadi cerah.
itu juga yang mmbuatku betah ada di sini.

asrama ini punya lapangan luas di lantai atas yang belum selesai dibangun. di sana bisa lihat langit. Luaaas banget.....




Rabu, 12 September 2012

my work




yap ini lah meja kerjaku. Rapi kan.
selalu tersedia air putih dan susu. buat jaga jaga kalo laper.

sebenarnya kerja disini gak ribet-ribet amat. cuma ketik dan print.

sisanya ya ngadepin mahasiswa2 tu. yang selalu bilang "assalamualaikum bu" tua banget kan. hahahah.

pekerjaan yang paling enak disini saat ambil diet. yuhuuu namanya aja diet porsinya tidak mencukupi kebutuhan tubuh. karena malu klo ambil banyak banyak.

ikhlas

berlian yang indah dibuat dari sakit yang luar biasa.

pedang terbaik di tempa dengan cara yang lebih keras.

mutiara terbaik tercipta dari balutan ketulusan dari rasa sakit.

harus kuat. ikhlas.

coz I am beautiful I am
I have my own character.
izinkan aku berlari hingga tak ada lagi yang bisa kurasakan.

Senin, 10 September 2012

welcome my nu life




yup gw jadi anak asrama.
pengalaman pertama nih...
1. tiap pagi siang sore kuping harus aktif denger suara roda gerobak buat anter dan antri dien (a.k.a makanan)

2. gak boleh kaget liat orang pipis di pintu KM. sekat KM nya sempit. dengan ember gede di dalamnya.

3. jngan bawa sndal jepit lagi. ilang cyiiiinn.

4. siapkan diri besok mau bangun jam berapa. gak kebayang antri kamar mandinye.

Minggu, 09 September 2012

Lebih apa??

Masih masalah merried. Banyak yang menjadi masalah ketika kita membicarakan pernikaha.

Mari kita membahas satu persatu dimulai dari masalah pemilihan calon mempelai.

Pastinya setiap orang memiliki kriteria untuk tiap calon mempelainya masing masing.
ada yang ingin calon mempelainya kaya, cakep, saleh, baik, setia, dll.
pastinya setiap orang punya alasan mengenai kriteria yang ditetapkannya tersebut.
Masalah keimanan, sudah pasti menjadi prioritas.
Masalah kaya atau mapan itu tergantung tiap individu. pastinya memang harus di persiapkan karena setelah menikah akan lepas dari orang tua.

Masalah pendidikan.
mengapa hal ini menjadi masalah? karena hal ini berkaitan dengan finansial dan kematangan.
bagi berapa orang memiliki pasangan yang tingkat pendidikannya dibawahnyamungkin tidak menjadi masalah. namun dari beberapa wanita yang aku temui dan wawancarai, memiliki pasangan yang tingkat pendidikannya diatas kita itu lebih baik. atau minimal setara dengan kita. hal ini dikarenakan pria selalu egois dengan gengsinya. tingkat pendidikan yang lebih tinggi tentunya memiliki peluang untuk kerja yang lebih baik dan gaji yang lebih dari cukup. sehingga hal ini dapat memengaruhi hubungan antar pria dan wanita.

pertanyaannya. apakah tingkat pendidikan ini masih penting dibahas jika sudah saling cinta? atau pembahasan mengenai hal ini menjadi indukator tidak adanya cinta diantara mereka?