Jumat, 06 Oktober 2017

Hello Kid

Finally... The test Pack is positive. Bener bener terkejut, seneng dan gak nyangka. Padahal pas ngecek itu udah pesimis banget takut jadwal mens balik gak teratur lagi. Dan ternyata garis dua itu terlihat jelas banget. 
Si Suami juga bengong pas dikasi tau test pack nya dia cuma bilang "Apa itu?" 
What??? 
Tapi akhirnya dia ngeh, "Itan hamil ya... Yee seneng lah ya". Itu kan gak perlu dibilang ya. 

••• 
Kalo diinget inget, pernikahan kami udah setahun. Momok yg paling menakutkan adalah ditinggal suami karena disuruh mertua cari isteri lain yg bisa hamil. Belum lagi masyarakat yang sibuk nanyain kenapa belum hamil. Belum lagi, sepupu sepupu yg pada udah melahirkan padahal nikahnya deketan. Stress banget waktu itu, dikit dikit nangis. Tapi si suami selalu bilang emang belum dikasi Allah rejekinya mau gimana. Yap, kami menikmati masa pacaran yang halal selama hampir satu tahun lebih. Bedua aja kemana mana kayak orang pacaran. Itu waktu yang dikasi Allah karna selama pacaran beberapa tahun ketemunya kalo ditotal gak nyampe satu bulan, Nasib LDR. Eh bukan kami LDR goals yeeaayy. 
Jadi waktu mama bilang "dijaga baik baik kehamilannya, udah terlambat itu hamilnya" menurutku itu bukan terlambat. My baby datang disaat yang paling tepat. 

•••

Back to present. 
Its a gift. 
Akhirnya cek ke bidan buat mastiin dan dikasi vitamin karna mau kerja ke luar kota.
Dan beberapa minggu lalu cek ke dokter kandungan taraaaa.... udah ada jantungnya seneng bangeettt....

Mama tunggu kamu sayanggg.



Minggu, 23 April 2017

Minder


Aku menarik diri. Memang ku sengaja. Menjauh dari keramaian. Menjauh dari masyarakat.

Aku iri. Aku bukan seorang isteri yang baik. Aku masih menyimpan iri. Pada tetangga, pada teman, pada saudara.

Aku tidak iri mereka bergelimang emas. Aku tidak iri mereka berpakaian mewah yang harganya bisa untuk makan seminggu. Aku tidak iri mereka naik turun mobil mewah terserah saja. Aku hanya iri pada mereka yang pamer test pack di sosial media dengan dua garis merah. Aku iri pada perut buncit mereka. Aku iri pada elusab mesra suaminya di perut perempuan itu. Aku iri pada rona bahagia ibu ibu yang ku kenal menggandeng anaknya atau menantunya yang sebentar lagi akan menjadi seorang nenek.

Aku iri.

Iri setengah mati. Aku minder. Sebaiknya aku tidak menjumpai mereka. Aku menyibukkan diri dengan kegiatan lain. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dari keinginan itu. Mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan pertanyaan kenapa perutku belum juga membuncit.

Aku menjauh, karna aku iri. Karna aku begitu menginginkannya. Sementara Tuhan masih belum mengizinkanku memilikinya. Sementara jarak masih memisahkan ku dengan lelakiku. Aku menjauh karena kau takut dengan pertanyaan mereka. Dengan tuduhan tuduhan mereka. Dengan hinaan mereka. Aku takut dengan omongan mereka yang menyakiti hatiku.

Aku takut.

Bukan aku tidak ingin hamil.