Rabu, 31 Oktober 2012

Memoar kala hujan

apa yang ada dibenakmu saat titik hujan mulai membentuk titik2 di kemejamu.
saat percikannya mulai menjamu dingin yang mengajak tanganmu mendekap erat.
saat kesibukan terasa sedikit buram.
yang ada hanya kelabu sisa mendung barusan.









Minggu, 28 Oktober 2012

Aku, ibumu dan hati yang lain.

"Adit"
"Namanya Aditya Prada"  lanjutku, perempuan itu mengusap matanya yang masih basah. Dia masih tak mengerti.
"Pria itu lah cinta terakhir ibumu. Tempat dimana dia menyerahkan seluruh hatinya." aku memulai cerita. Perempuan itu masih sedikit terisak.
"Cinta tak harus memiliki, kau pernah dengar yang seperti itu kan?" perempuan itu mengangguk.
"Ibumu tak memberlakukannya dalam hidupnya. Bagi ibumu jika dia benar benar sayang, maka seharusnya ia tak pernah melepaskannya"  Perempuan itu memandang menunggu penjelasan.
"Pada akhirnya ibumu sadar, pria itu tak benar benar menyayanginya. hingga ia pergi tak sekalipun pria itu berusaha mencari tahu. Kau tau Ladisha? Ibumu masih saja menunggunya dengan setia." Aku tersenyum.
"Prada. Kau pasti tak asing dengan nama itu. Nama yang sering digunakan ibumu dalam setiap tulisannya. Setiap ceritanya adalah sepotong kehidupannya ditambah mimpi mimpi ibumu."
"Kau mencintai ibu?" Perempuan itu memotong kalimatku dengan pertanyaannya.
"Hingga akhir bilangan hidupku Ladisha." jawabku tegas.
"Meskipun kau tau ibuku mencintai Prada-nya?"  tanya Ladisha ragu.
"Ibumu tak pernah ragu pada ku. Kau lupa Ladisha, bagi ibumu cinta adalah tidak pernah melepaskan. Ibumu tau, aku tak pernah melepaskannya dalam kesendiriannya seperti Prada."
"Kau tak pernah cemburu?"
"Karna aku tau Ladisha, hanya hatiku yang dimilikinya sekarang, sejak ia menyerahkan seluruh hatinya pada pria itu." Aku tersenyum.

"Kau lelaki yang kuat ayah..." ucap Ladisha memelukku.

masih

ya.. aku masih merindukanmu hingga kini
hingga malam menyeruak masuk ketidurku.

aku masih merasakan panas dimataku bila ku ingat kejadian kemarin.

ya aku masih merindukanmu.

Jumat, 19 Oktober 2012

Melarikan diri

Aku tau melarikan diri pada kesibukan akan sangat melelahkan.

tapi hanya itu cara yang ku tahu.

Kamis, 18 Oktober 2012

Karma

Tuhan mungkin ini saatnya aq menerima pembalasan darimu.

Aku terima kalay ini yang bisa membuatmu mengampuniku.

posted from Bloggeroid

Rabu, 17 Oktober 2012

Cepat besar ya...

"bu... Tanggal 22 oktober ya bu"
"bu hari senin ibu datang kan?"
"bu ibu bawa kado apa nanti?"

Itu sederet pertanyaan muridku. Yap, 22 Oktober nanti muridku yang paling kecil ulang tahun.
Bukan hanya karena dia yang paling kecil, tapi sepertinya itu adalah hari yang paling di tunggu.

Sama seperti hari khatam Iqro' nya kemarin. Dia yang paling istimewa, dengan acara sederhana tapi tetap saja istimewa dibanding kakak dan abangnya. Hanya ada keluarga, guru ngaji, mak uo, dan aku. Terasa khidmat lah acara itu.

Kali ini juga pasti akan istimewa. Bukan acaranya, tapi pengakuan bahwa ia telah semakin dewasa, semakin bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Selamat ulang tahun adik kecilku.
Cepatlah besar, beranjak dewasa dan jadi apa yang hatimu inginkan.
Semuanya mendukungmu.

Kau tau, dirimu itu istimewa.

posted from Bloggeroid

Jumat, 12 Oktober 2012

Capsule 1 : First Capsule

"Rave... " aku mengetuk kamar kos kosan Rave. sudah sepuluh kali ku miscall ponselnya tak ada jawaban. yang kesebelas kali, sepertinya ponselnya mati lowbat. Beli hape baru dong Rave... ucapku biasanya komplain padanya, dia hanya menggeleng.

"Rave.." panggilku lebih keras. Rio, teman sekamar Rave yang keluar.
"Rave lagi mandi tunggu diluar aja Dish." aku tersenyum. Menunggu di luar kos kosan rave membuatku jengah kadang. Ada saja teman teman Rave sesama anak kos-kosan cowok yang iseng menggangguku. Rave selalu bilang "Karna lo cantik" aku cuma nyengir.
Hari ini aku sudah berada di depan kos kosannya. Kulirik jam tangan gambar Doraemon ditanganku 08.00. pantes saja Rave baru bangun. Hari ini aku mengenakan jeans biru pudar dan kaos kuning pucat yang kemudian kupadukan dengan topi biru tua .
"Berisik lo ah " Ucap rave begitu keluar dari kamar. Aroma sabun menguar dari tubuhnya. Segar.
"Kan udah gue ingetin lo jangan telat. udah waktunya nih. hihihih " aku mengelak dimarahin akibat ulahku membuat rusuh kos-kosannya pagi ini.
"Iya gue inget. gue ngerjain laporan tadi malam."
"Sorry..." ucapku sambil tersenyum manis.
"yuk ah. udah sarapan lo ?" tanya Rave. Tepat pada saat itu perutku berbunyi.
"Belom tuh hahahahha" Rave tertawa puas kemudian menghidupkan motornya. menyuruhku naik ke boncengannya kemudian membawaku ke tempat sarapan favorit kami.
"Bang, bubur ayamnya 2 ya, yang satu kerupuknya dibanyain.yang satu sambelnya yang banyak." kemudian Rave menoleh ke arahku. porsi yang sambelnya banyak itu memang dipesankannya untukku.
***
Hari ini tepat setahun kami mengubur Time Capsule di belakang perpustakaan kampus. Aku tau itu adalah tempat yang jarang dikunjungi mahasisa, karena untuk pergi kesana hanya bisa dilakukan dengan memutari perpustakaan kampus yang besar.
"Cepetan udah gak sabar" ucapku.
"Iya nih, seinget gue gue ada nyimpen uang seratus ribuan, lumayan lah buat akhir bulan. Aku nyengir Time Capsule itu tidak begitu saja tertanam di dalam tanah. kami hanya menimpanya dengan beberapa batu besar bekas reruntuhan perpustakaan lama.
Aku membuka kaleng biskuit yang ku sebut Time Capsule itu. Kuserahkan bungkusan hijau miliknya dan bungkusan kuning milikku.

Aku membuka bungkusan ku, isinya foto kami saat lulus SMA dengan baju yang masih bersih dan sengaja kutulis dibawah fotonya "tidak ada yang boleh mengotori persahabatan ini. Aku tersenyum dan memberikan foto itu pada Rave. Ya.. foto itu seharusnya berada pada Rave. Aku menikmati setiap saat persahabatan kami. hingga saat ini. isi bungkusanku hanya foto itu dan sebuah surat kecil.

Setahun kemudian,
Waktu berlalu. Kita berhasil menangkapnya dalam kapsul ini, paling tidak kita tidak termakan waktu, karena ada alasan untuk tetap ADA. Ada hal yang bisa saja kita lupa, karena mungkin terlalu banyak hal penting untuk di ingat. 
Terima kasih mau menangkap waktu bersamaku Rave.

Surat itu kuberikan pada Rave. Rave tak membacanya, kemudian berteriak.
"Dish, gue punya uang seratus rebu lagi..." ucapnya menunjukkan uang seratus ribuan yang disimpannya setahun lalu.
"Tunggu ada tulisannya." ucap rave, kami melihat secarik post it yang ditempeldi uang tersebut.
"20% milik Ladisha " Hahaha aku tertawa, setahun lalu Rave punya janji akan membelikanku eskrim cokelat kalau Time Capsule ini berhasil. kemudian kurebut surat yang sedari tadi tak dibuka oleh Rave.

Setahun lagi. 
Kalau memang surat ini berhasil disimpan dan tidak hilang.
itu mungkin Ladisha yang menyimpannya. 
ini kegilaan Ladisha.
Impianku, aku harus menang Lomba Karya Tulis. 

Itu saja? Pikirku, apa lagi yang kuinginkan. huuhh aku menghembuskan nafas panjang.

"Gak piutis.." ucapku.

Rave menarik suratnya, "Gue bukan penulis fiksi kayak elo, yang gue tulis yang apa adanya."


Rabu, 10 Oktober 2012

Di- Ter- Me

Di suatu malam semua bisa terjadi dari satu benang merah yang dinamakan rasa. Di beberapa tempat sekaligus.
Ada yaang meyakiti tanpa tau alasannya, ada yang Di sakiti oleh yang menyakiti. Ada tang Tersakiti tanpa sengaja.
Itulah alasan mengapa karma itu ada. Karena hidup itu sekumpulan sebab akibat. Sekumpulan benang merah yang terjalin sempurna.
Dan untuk itu, aku siap menanggung karma ku sendiri. I have to.

Selasa, 09 Oktober 2012

An angle

I believe in angel
Something good in everything I see.

Akhirnya aku tau maknanya. Yess...

Tadi sore pulanh naik angkot. Baru nyadar uang d dompet cuma ada seribuan dan lima puluh ribuan.
Cari tukaran dengan penumpang lainnya, gak ada yang punya.
Pas turun, dengan angkuhnya supir angkot nyuruh cari ongkos sampe dapet. Untung aja ada kakek kakek cuma tukang becak barang. Tapi mau minjemin uangnya buat ongkos. Dan bahkan dia ngasi tau dimana bisa tukar uang.
Orang baik itu tidak dilihat dari pakaian. Sekalipun PNS belum tentu baik.

Senin, 08 Oktober 2012

Ladisha : The Script 2

Di suatu tempat, Disuatu masa.

Suatu hari nanti Rave, kau akan bahagia. bukan denganku. entah dengan siapapun itu. mungkin Fira.
tapi siapapun dia percayalah, ada sekeping hatiku disana. untuk tetap mencintaimu.
Suatu hari nanti saat kita telah sama sama dewasa, bukan lagi remaja yang labil, semoga kita masih bisa menyimpan mimpi mimpi kita. masih bisa tertawa saat lelucon konyol yang hanya kita berdua yang tau.
Aku pasti merindukan hal itu.
Kau tau, kebahagiaan seorang wanita adalah ketika ia bisa menikah dengan cinta pertamanya. Kau tau Rave? karena bagi wanita itu cinta pertamanya adalah cinta yang paling istimewa.
tapi bagi pria, menikah adalah waktunya berkomitmen pada wanita yang ia cintai terakhir kali.

Ada rahasia kecil yang setiap orang sembunyikan.
"We all have secrets. The ones we keep, and the ones that are kept from us" - The Amazing Spiderman
tapi suatu saat rahasia itu akan diketahui, Rave. Seperti yang kau bilang. Rahasia itu ada untuk diketahui. benar kan Rave?

Seperti yang selalu kau ajarkan padaku, waktu bisa jadi segalanya. Mungkin kali ini waktu akan membukakan rahasiaku untukmu.
Aku ingin menjadi cinta terakhirmu Rave, kau tau kenapa? karena kau yang pertama membuka sangkar kupu kupu itu. menyebabkan geli di hatiku.

Tentang Sato. Sebenarnya dia tidak pernah ada. Aku hanya mengambilnya dari nama belakangmu. Revan Satria Sasongko. Sat-o

Setiap seniman memiliki sumber inspirasi, mungkin suatu saat aku akan berhenti menulis ketika aku kehilangan inspirasiku. Kau tahukan nama dinovelku selalu Sato? Setiap bersamamu selalu ada yang pantas untuk dibagikan ke dunia.

Sepuluh tahun, aku tahu itu masa terindah yang dibagikan waktu padaku.

Tentang Kita. Agar tak termakan waktu. 





Minggu, 07 Oktober 2012

Ladisha : The Script

"Sato" bisik Alita
Sato terdiam. tak menyangka kalau Alita juga ada disana. Alita mengenakan jacket merah maroon, warna favoritnya. Alita mendekati Sato menunjukkan jam kecil pemberian Sato yang berbentuk kalung.
" Kau benar, waktu bisa menjadi segalanya" ucap Alita.
"Diantara sekian manusia, sejuta tempat, dan banyak malam. kenapa justru malam inikau dan aku berada disini? tidakkah kau pikir ini permainan waktu?"
Sato membuka mulut hendak berbicara, Alita memotongnya dengan cepat.
"Waktu itu seperti mesin bergerak To. Benar, seperti bandul jam ini. semua komponennya bergerak tak berhenti untuk berputar terus menerus. karena kalau sedetik saja salah satu geriginya berhrnti. dia tidak akan berhasil menunjukkan waktu" ucap Alita tegas.
Dan kemudian, Alita meninggalkan Sato. Berdiri terpaku menatapnya sebelum kemudian seorang perempuan memanggilnya dari belakang.
"Papa...." ucap perempuan kecil itu bersama seorang wanitadengan terusan hijau tosca.

Alita mendengar panggilan perempuan kecil itu. tanpa menoleh ia berbisik pada dirinya sendiri.
"Waktu benar-benar bisa membuka semua yang tersembunyi" 
Air matanya mulai mengganggu pengelihatannya.

Ladisha menutup notebooknya. Sudah mencapai ending yang dia inginkan. Cerpen miliknya kali ini sangat ia harapkan terbit di majalah perempuan. Hanya karena Ladisha butuh sekali uang untuk membeli sesuatu. Untuk Rave.

Cerpen ini dari Rave dan untuk Rave, Ladisha banyak mengutip kata-kata Rave. Jadi apa salahnya Ladisha memberikan sesuatu untuk sahabatnya itu. Ladisha langsung mengambil ponselnya ketika terdengan suara getaran.

Sorry Dish, gw gak bisa nemenin lo. Gw mw jemput Fira.

R-Ave

Ladisha menghela nafas panjang. menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur dan menggumam.
"Bodoh, kenapa aku lupa jadwal Rave menjemput Fira"


Jumat, 05 Oktober 2012

Rave : Ambiguitas Rasa

Bagaimana mungkin aku hidup dengan mu jika bersamamu saja membuat aku jengah. pikir Rave.
lelaki itu mulai lelah dengan ocehan Fira, perempuan cerdas dengan sejuta pesona. tak ada yang memungkiri bahwa Rave dan Fira pasanga paling sesari di kampus. Zafira yang begitu anggun dan cerdas bersanding dengan Rave, Bintang kampus dengan status mahasiswa berprestasi. ditambah lagi nilai plus matanyayang cokelat dan kulitnya yang putih membuat dia bersinar diantara teman teman seangkatannya. bukan hanya seangkatan, se antero kampus. pasti kenal Rave. Kandidat ketua BEM yang memilih mundur karena ketahuan timnya melakukan Black Campagne.

Rave berulang kali melirik arlojinya, sebentar lagi jam 4 pikirnya. aku harus bergegas.
"Fir, aku pulang dulu. sampein salam sama mama papa kamu ya." uapan Rave menghentikan celoteh Fira tentang kompetisi karya tulis yang diikutinya. Fira hanya mengangguk.
"Okey, besok kita ketemu lagi kan sayang." tanyanya sambil mengantar Rave ke halaman depan. Rave hanya mengangguk. Tidak mengerti dengan perasaannya. ada yang kurang dari Fira. pikirnya. entah apa itu. Hatinya seolah tidak mampu membuka sangkar kupu kupu yang dulu sering kali berterbangan di dalam perutnya.

Rave bergegas, hujan sudah dari tadi jatuh, banjir setinggi mata kaki dimana-mana. Rave memacu motornya lebih cepat lagi.
"Semoga gak mogok" doanya dalam hati.
betul saja, perempuan berambut ikal itu menundukkan kepalanya di bawah halte bus. bukan malah menunggu bus yang akan dinaikinya.
"Ladisha" bisik Rave. Tak berani mendekat. Sudah hampir dua tahun Rave tak berjumpa dengan perempuan itu. tiba tiba saja Ladisha menghilang dari kehidupannya. Baru beberapa hari ini saja ia mulai menemukan Ladisha di halte yang sama setiap sore. Ada yang menahannya mendekati Ladisha. Entah apa. Wajah sendu perempuan itu membuatnya takut mendekat. membuatnya takut bahwa luka yang dulu dibuatnya akan terbuka lagi. Rindu, Rave bahkan sangat merindukannya. lagi lagi hari ini dibiarkannya perempuan itu pergi tanpa menyapanya.Hujan sore itu sudah memuat kuyup pakaiannya. ia harus bergegas pulang kalau tak ingin besok terserang flu.
Ada yang tak dilihat Rave, air mata Ladisha yang tersamarkan air hujan.


Kamis, 04 Oktober 2012

Ladisha : Coretan dibawah hujan

Hujan, Basah... ucap perempuan itu menggumam. keciprat air terdengar seharmoni, meski kadang diganggu oleh klakson bis kota yang tak sabar ingin pulang. mungkin anak anaknya menunggu, pikir perempuan itu.
perempuan itu bosan menunggu hujan berhenti. menunggu lagi, katanya dalam hati. Aku bosan..
dikeluarkannya ponsel nya, sengaja ditutupnya aplikasi chatting di ponselnya. ia sedang tidak ingin diganggu.

"When the rainy begin, I just wanna be alone"

kemudian dibukanya aplikasi diary nya di ponsel tersebut.
perlahan jarinya memilih huruf huruf yang mulai bermunculan di layarnya, dia sedang mengetik.

Aku rindu, dengar kah kau suara hatiku yang seolah ingin menjerit.
Aku rindu peluhmu, Aku rindu tawamu. Hangat.

perempuan itu menutup catatannya. tersenyum seolah ia bertemu dengan seseorang yang dinantikannya.

"Rave... aku harus pergi"

kemudian hujan mereda. tetesnya tinggal satu satu, menimbulkan titik titik di baju Ladisha.

Ladisha tak menyadari ada yang menunggunya diseberang jalan, dengan payung biru, mencari cari gadisnya. Setiap sore.

Rabu, 03 Oktober 2012

I am a writer

tulis tulis tulis..
bisik Ladisha dalam hati. aku mau menulis apa. kali ini pikiran Ladisha benar benar buntu. sudah berhari hari ia hanya membuka laptopnya mengetik sembarang kata kemudian menghapusnya lagi. idengya seolah olah buntu. tak mengalir.

Apa benar aku bisa menulis? pikir Ladisha lagi. perlombaan cerpen itu tinggal beberapa hari lagi. Ladisha sangat butuh uangnya. uang yang dikumpulkan Ladisha saat ini belum mencukupi.
Lagi, Ladisha membuka catatan hariannya,

25 November 2009
Rave jahat, dia mengoyakkan buku yang dikasi oleh kak Sandro.
katanya aku gak boleh nerima pemberian orang sembarangan. apa salahnya.
 Aku berhenti bersahabat dengannya titik.

27 November 2009
Udah baikan sama Rave.. Rave anterin cake pisang buatan mamanya. trus kami makan bareng di balkon rumahku. rave membaca cerpen yang mau kukirim kan ke majalah seminggu lalu. katanya aku berbakat jadi penulis.
Pagi kesekian aku masih menunggu. berharap semua akan lebih baik.
I believe that I am happy without you.....

Ucapan Tulus-Kebahagiaan Sempurna

Selamat....

Begitu saja ucapanku yang terucap dari hatiku.
singkat. tapi tulus.

Aku tidak sedih, aku tidak marah. jujur aku bahagia akhirnya kau mendapatkan yang layak mendampingimu. yang lebih mencintaimu. Gimanapun juga aku tau wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Mungkin aku tidak cukup baik mendapatkan cintamu yang tulus itu. yah.. aku tau kau tulus.
Mungkin semesta memang sudah menuliskan bahwa kita tidak berjodoh. sekeras apapun kau memaksakan. 
Memori itu biarlah jadi masalalu. aku senang bisa berkenalan denganmu, bisa bertukarpikiran dengan orang idealis sepertimu, cukup membuat aku merasa I am loved. yeaahhh...
Jujur aku sempat takut, bagaimana jika kau tak lagi bisa membuka hatimu bagi orang lain hanya karena aku. dan aku senang ketakutanku tidak terbukti.   kalau sempat itu terjadi aku adalah orang paling berdosa dalam hidupmu. Mungkin. Aku takut karma itu masih berlaku. Sukurlah kau merelakan karma itu untuk tidak terjadi.

Pada akhirnya kita tau itu adalah pilihan terbaik  

Sekali lagi, insting perempuanku tak pernah salah. 

Selasa, 02 Oktober 2012

I am a loser

Entah knapa tiba tiba aku merasa jadi orang yang kalah. Kalah dalam segala hal. Materi iya. Semua hal. Seolah aku benar benar gg berhak untuk bisa hidup layak kayak yg lain.
Fee ku tiap bulan cuma habis buat ongkos.
Kelulusanku yang tepat waktu seolah tidak membantu apa pun. Aku hanya merasa yaahh.. Tidak ada yang istimewa dari sebuah gelar.

Kesehatan yang patut kusukuri. Yeah I wish aq masih layak untik mensukurinya. Dengan status kesehatanku yang semakin memburuk.

Yeah I despereate with my life.

Apa lagi sekedar mengharapkan mimpi mimpiku jadi kenyataan. Gg berharap lagi lah.

Aq pengen S2. Biaya dari mana? Gaji cuma segitu. Orang tua ku juga pas pasan.

Capek bgt. Tepatnya aku lelah.
Lelah menjadi pecundang.

God could You help me?

Senin, 01 Oktober 2012