Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2012

(Blurb) Time capsule


Kita hidup di garis tangan kita, bersisian, berbagi, tapi tak pernah saling menyentuh. 
Kau bilang waktu yang akan menentukan.
Kau bilang waktu akan memberi ruang yang tepat. 
Aku selalu percaya, hingga ternyata waktu juga mampu membuatnya menjadi pudar. 
Garis mu perlahan memudar hingga hilang tak dapat kutemukan.
Mungkin waktu pernah tidak tepat.
"Time Paradox" katamu
kita dipermainkan oleh falsafah lama tentang kesabaran pada waktu yang kau bilang tepat.

Rabu, 27 Juni 2012

aku dan sisa mimpi

tepat ketika jarum jam berdetak ke seribu kali saat aku mendengarkan dengan seksama
saat itu aku tersadar
telah larut
lagi
sekali lagi
pada mimpi mimpi
yang selalu terlihat indah
selalu menggoda
tak sekeras kenyataan,
selalu membuai

tahu kah kau
aku menggenggam mimpi itu
meski kini hanya ampas
sisa masa lalu
...

Kamis, 10 November 2011

Alasan aku tak pernah bisa


Tahu alasan kenapa aku tak pernah bisa membencimu?
karena kau membuatku jatuh cinta setiap hari.


Tahu bagaimana aku mengagumimu?
dengan mengagumi karya karyamu.


Tahu bagaimana aku melihat keindahanmu?
dari indahnya jiwamu yang terpancar dari lukisan tanganmu.


Jika kau ingin tahu semua...
itu semua karnamu dan keindahanmu.
cukup membuatku jatuh cinta terus menerus.

Senin, 19 September 2011

Aku Cemburu

Aku cemburu pada dia
Yang namanya terukir jelas di hatimu
Aku cemburu pada dia
Yang menyelipkan cinta di hatimu
Aku cemburu pada dia
Yang membisikkan sajak cinta ketika matahari mulai meredup
Aku cemburu pada dia
Yang memekarkan semangat di tiap langkahmu
Aku cemburu pada dia
Yang menyelinap masuk mengambil alih hatimu
Aku cemburu….
Tidakkah kau rasakan betapa aku cemburu padanya

Pada bayang semu masalalu yang masih kausimpan… setia.
Aku cemburu.



Medan. Agustus 2011


Jumat, 09 September 2011

dan cinta tak perlu aksara

ingatkah ketika jemarimu yang lentik menuliskan bait cinta
sementara bibir merah mu merekah-bergumam-sambil terkadang berdecak mengirimkan jalinan kata-menggodaku
adakah kau lupa. Mengatasnamakan cinta.
Memberi label atas perilakumu.
Atas kenarsisanmu yang terkadang memuntahkan kesombongan.
Adakah cinta yang menumpukku dengan lembaran tak bermakna.
Dengan anyaman huruf yang kau berikan sebagai persembahan.
Bumi berbisik...
Matahari mengerjap...
Dan angin membius mesra...
Dan cinta tak perlu aksara...

Senin, 15 Agustus 2011

Jarak


Aku membenci jarak
yang membuat curiga ini tak tertahankan

Aku membenci jarak
Yang mneyusun rangkaian emosi yang tak ku kenali
Yang mereka sebut.. cemburu

Aku membenci jarak
Hingga satu ketika waktu tak bisa membawamu kembali

Aku membenci jarak
Yang merekam tiap prasangka dalam detak lajunya

Ya …
Aku membenci jarak
Yang terlalu kokoh
Yang terlalu angkuh
Hingga tak dapat dikalahkan oleh ‘cinta’

Atau mungkin ….
Aku juga membenci “Cinta”

Medan, Agustus 2011

Selasa, 02 Agustus 2011

bagaimana Aku..


Bagaimana aku bisa melawan takdirku, jika semua yang tersusun menghadapkanku padamu.
Bagaimana aku mengingkari rasaku jika tiap daun yang terbang menyentuh puncak kepalaku membisikkan namamu,

Akh bagaimana aku bisa, sementara aku tergeletak lemah memandang nanar langit langit kamarku yang melukiskan kisahmu.
Seperti hangat  hujan yang menitikkan airnya menempel pada helai rambutmu, yang kemudian belari mencariku.

Sekali lagi kutanya padamu..
tolong kau jawab, tatap aku...
Bagaimana aku bisa mengabaikan tiap hembusan aroma tubuhmu, jika angin sengaja membawanya untuk kuhirup,
seperti tiap tetes kopi yang ku tuguk penuh makna.....

Bagaimana bisa...
Aku tak pernah menemukan jawabannya, atau mungkin sengaja tak mencarinya...
Bagaimana Bisa.... jika setiap detak waktu berharap membawamu kembali..
memutar gelombang arus frustasi untuk menemukanmu kembali dalam dekapan waktu

meski harus kulakukan tanpa sederet alasan...
Tetap kau paksa aku melangkahkan kaki dari semestamu.
Tanpa kutahu alasan .Bagaimana aku Bisa?