Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2012

Kopi Pahit

Seperti kopi pahit yang  habis terteguk, namun menyisakan pati. Membekas.

Berulang kali ku cek ponselku. Nihil. Masih berharap akan ada pesan pesan darnya Yuna? pikiranku mulai menyusun perbincangannya sendiri. Aku berusaha menghindar dari perbincangan itu. kualihkan pandangan ke arah monitor laptopku, mulai mengerjakan proyek yang baru saja kuterima. Sudah cukup mellow-nya. terlalu banyak waktu yang terbuang karena menyesal. Pikirku.  

Ah kau menyesal ternyata Yuna, bisik hatiku menyepelekan.

Bukannya kau, yang begitu pagi datang, memutuskan untuk mengakhiri semuanya. 

Aku menghela nafas.

Bukannya kau yang dengan penuh kehati hatian berusaha untuk menjelaskan bahwa hatimu tak bisa lagi mencintainya.

Bukannya kau juga yang mengambil keputusan untuk menjauh darinya dengan kata kata ketusmu Yuna?

Pikiranku mengeluarkan fakta yang tak mungkin kubantah. Aku benar benar tak bisa melakukan apapun. Nafasku tertahan.

Jangan pernah mengharapkan sisa manisnya Yuna, jika yang kau beri padanya hanya Kopi Pahit.

Hanya akan tertinggal ampasnya, Pahit.


Aku mematikan ponsel, membiarkan laptopku menyuarakan lagu yang pernah kita nyanyikan dulu.
Aku merindukanmu, bisikku.

Aku tau cinta itu terasa berari saat kau telah benar benar pergi.

 


Rabu, 14 November 2012

Unconsistence

Dan sekeping hatiku yang lain memilih pergi menjauh.


"Ah ya Apa kabarnya Ario?" tanyamu sore itu, disebuah cafe langganan yang biasa kita kunjungi,dulu, waktu kita masih bersama. Pertanyaanmu adalah pertanyaan yang paling berat untuk ku jawab. Kau tau jawabannya, masih ada sepotong hatiku yang mencintainya. Kalau kau tidak lupa, aku meninggalkanmu karena dia. Dan kau selalu tertawa kalau mengingat hal itu. Entah menyadiari bodohnya dirimu atau, kebodohan diriku. Aku tak pernah tau pasti.

"Baik." Seperti biasa aku menjawab singkat. dan aku berusaha untuk ketus padamu. Aku mulai mengeluhkan waktu yang berjalan perlahan, amat lambat. Kita menunggu.
"Masih jalan sama Ario?" pertanyaanmu yang sangat tidak ingin kujawab.
"Dia sudah bahagia dengan pasangannya, seperti kau bahagia, dan aku pun bahagia. Masalah aku masih menyimpan rasa, itu masalahku. bisakah tidak usah kita bahas?" jawabku.
Dan kau mulai tertawa.
"Gak ada yang lucu, gak perlu tertawa, terlalu dipaksakan" komentarku ketus.
"Bahagia dan berusaha bahagia itu berbeda" ucapmu. tak kupedulikan, tapi aku mengerti maknanya.
 "Sepertinya aku harus pergi, Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir." Aku tersenyum padamu.
"Bisa kah kita lebih lama disini?" tanya mu hati hati. kemudian Kau melambaikan tangan pada seorang perempuan cantik.
"Akan ada hati yang tersakiti, jika memang harus ada itu aku" jawabku singkat memperhatikan perempuan cantik itu mendekat ke meja kami. 
"Jangan pernah menyakiti dia" ucapku sebelum perempuan itu semakin dekat.
"Tidak akan pernah kusia siakan dia Yuna" jawabmu pasti.
"bisakah kita bertemu lagi?" tanyamu tepat saay perempuan berambut sebahu itu sampai di meja kita.
"Maaf tidak bisa" ucapku sebelum tersenyum pada perempuan itu. dan mengulurkan tangan.
"Kamu pasti pacarnya Fian, Hai aku Yuna..."
"Martha... " jawabnya tersenyum.

kemudian aku permisi dan bergegas meninggalkan tempat itu. meja yang sama sejak kita berkenalan, meja yang sama saat aku menerima rasamu, meja yang sama saat kita menyadari ada yang tidak sejalan, meja yang sama tempat aku meninggalkan semua kenangan kita.
meja yang sama ketika aku merasa "Berusaha bahagia dan tidak menyia-nyaiakannya" terdengar tidak sejalan. 









Rabu, 07 November 2012

Maaf yang menggantung


"Kapan lagi Alika?" tanya mama lembut.
tapi aku tahu, dibailk kelembutannya, ia menyimpan harap yang sangat besar. hanya satu harapannya sejak aku mendapatkan pekerjaan itu, ia ingin melihatku menikah. memiliki pendampinghidup, kata ibu begitu.
 Sudah berkali kali, bahkan aku hapal sekali bentuk bentuk pertanyaannya.
"Udah ada calonnya?"
"Orang mana nih calonnya Alika?"
hingga pertanyaan...
"Duh mbak, ntar kalo mbak gak merried, kapan dong saya merriednya?" ucap sepupuku guyon.
Aku hanya tersenyum saja, memberikan jawaban paling sempurna dengan lengkungan bibirku yang artinya aku tidak ingin menjawab apa apa.
Malam ini mama mengundang temannya datang makan malam, bersama seorang anak laki lakinya. Perjodohan. ah, cerita lama pikirku. Aku hanya berbasa basi sekedar menjaga sopan santun.
tak ada lagi alasan untuk menunda pernikahan, bisik mama seraya keluar dari kamarku. Aku terdiam.

Pikiranku tak lagi bisa terkoneksi dengan bibirku, seolah olah mereka bekerja sendiri sendiri dalam mode default, pun begitu dengan hatiku, tak lagi dapat merasa lebih tegar sedikit lagi untuk tidak memancing gravitasi air mata.

Ma maafkan aku, tak pernah terbayangkan wajah cemasmu saat usiaku mulai bertambah dan kau belum menyebarkan kabar bahagia itu.
Ma  maafkan aku, telah memberikan seluruh hatiku pada pria lain,
lelaki yang kuharapkan akan memanggilmu ibu, 
lelaki yang kuharapkan akan menjadi imamku,
lelaki yang ku harapkan akan selalu kutunggu kedatangannya setiap hari.
yang akan dengan bangga kau perkenalkan pada yang lain.
dan dia pula yang tanpa permisi pergi begitu saja.
membawa seluruh hatiku yang utuh.
maafkan aku ibu, telah ceroboh memberikan seluruh rasaku padanya. 
Menitipkan seluruh hatiku padanya,
Hingga tak ada lagi yang tersisa 
selain asa 
selain luka.

Ayah, maaf...
Tak bisa kutemukan lelaki yang kau impikan
lelaki yang kau harap lebih baik darimu.
yang bisa memberikan apa yang kupinta,
yang bisa menjagaku lebih baik darimu,
lelaki yang kau pintakan juga untukku dalam setiap doamu.
aku mencintai dia 

Maafkan aku
Hati ini telah dimiliki oleh dia, 
Tak ada lagi sisa hati yang pantas untuk sekeping hati yang lain.

Pikiranku ingin meneriakkan kata kata itu dengan lembut di pelukan orang tuaku. Tapi badanku kaku. Hanya buih putih keluar dari bibir merahku. Setelah hampir sebotol ku telan obat tidur.

beberapa menit berikutnya tak lagi kudengar mama berteriak....

"Alikaaaa..........." sambil memeluk tubuhku yang terbujur kaku.






Minggu, 28 Oktober 2012

Aku, ibumu dan hati yang lain.

"Adit"
"Namanya Aditya Prada"  lanjutku, perempuan itu mengusap matanya yang masih basah. Dia masih tak mengerti.
"Pria itu lah cinta terakhir ibumu. Tempat dimana dia menyerahkan seluruh hatinya." aku memulai cerita. Perempuan itu masih sedikit terisak.
"Cinta tak harus memiliki, kau pernah dengar yang seperti itu kan?" perempuan itu mengangguk.
"Ibumu tak memberlakukannya dalam hidupnya. Bagi ibumu jika dia benar benar sayang, maka seharusnya ia tak pernah melepaskannya"  Perempuan itu memandang menunggu penjelasan.
"Pada akhirnya ibumu sadar, pria itu tak benar benar menyayanginya. hingga ia pergi tak sekalipun pria itu berusaha mencari tahu. Kau tau Ladisha? Ibumu masih saja menunggunya dengan setia." Aku tersenyum.
"Prada. Kau pasti tak asing dengan nama itu. Nama yang sering digunakan ibumu dalam setiap tulisannya. Setiap ceritanya adalah sepotong kehidupannya ditambah mimpi mimpi ibumu."
"Kau mencintai ibu?" Perempuan itu memotong kalimatku dengan pertanyaannya.
"Hingga akhir bilangan hidupku Ladisha." jawabku tegas.
"Meskipun kau tau ibuku mencintai Prada-nya?"  tanya Ladisha ragu.
"Ibumu tak pernah ragu pada ku. Kau lupa Ladisha, bagi ibumu cinta adalah tidak pernah melepaskan. Ibumu tau, aku tak pernah melepaskannya dalam kesendiriannya seperti Prada."
"Kau tak pernah cemburu?"
"Karna aku tau Ladisha, hanya hatiku yang dimilikinya sekarang, sejak ia menyerahkan seluruh hatinya pada pria itu." Aku tersenyum.

"Kau lelaki yang kuat ayah..." ucap Ladisha memelukku.

Jumat, 12 Oktober 2012

Capsule 1 : First Capsule

"Rave... " aku mengetuk kamar kos kosan Rave. sudah sepuluh kali ku miscall ponselnya tak ada jawaban. yang kesebelas kali, sepertinya ponselnya mati lowbat. Beli hape baru dong Rave... ucapku biasanya komplain padanya, dia hanya menggeleng.

"Rave.." panggilku lebih keras. Rio, teman sekamar Rave yang keluar.
"Rave lagi mandi tunggu diluar aja Dish." aku tersenyum. Menunggu di luar kos kosan rave membuatku jengah kadang. Ada saja teman teman Rave sesama anak kos-kosan cowok yang iseng menggangguku. Rave selalu bilang "Karna lo cantik" aku cuma nyengir.
Hari ini aku sudah berada di depan kos kosannya. Kulirik jam tangan gambar Doraemon ditanganku 08.00. pantes saja Rave baru bangun. Hari ini aku mengenakan jeans biru pudar dan kaos kuning pucat yang kemudian kupadukan dengan topi biru tua .
"Berisik lo ah " Ucap rave begitu keluar dari kamar. Aroma sabun menguar dari tubuhnya. Segar.
"Kan udah gue ingetin lo jangan telat. udah waktunya nih. hihihih " aku mengelak dimarahin akibat ulahku membuat rusuh kos-kosannya pagi ini.
"Iya gue inget. gue ngerjain laporan tadi malam."
"Sorry..." ucapku sambil tersenyum manis.
"yuk ah. udah sarapan lo ?" tanya Rave. Tepat pada saat itu perutku berbunyi.
"Belom tuh hahahahha" Rave tertawa puas kemudian menghidupkan motornya. menyuruhku naik ke boncengannya kemudian membawaku ke tempat sarapan favorit kami.
"Bang, bubur ayamnya 2 ya, yang satu kerupuknya dibanyain.yang satu sambelnya yang banyak." kemudian Rave menoleh ke arahku. porsi yang sambelnya banyak itu memang dipesankannya untukku.
***
Hari ini tepat setahun kami mengubur Time Capsule di belakang perpustakaan kampus. Aku tau itu adalah tempat yang jarang dikunjungi mahasisa, karena untuk pergi kesana hanya bisa dilakukan dengan memutari perpustakaan kampus yang besar.
"Cepetan udah gak sabar" ucapku.
"Iya nih, seinget gue gue ada nyimpen uang seratus ribuan, lumayan lah buat akhir bulan. Aku nyengir Time Capsule itu tidak begitu saja tertanam di dalam tanah. kami hanya menimpanya dengan beberapa batu besar bekas reruntuhan perpustakaan lama.
Aku membuka kaleng biskuit yang ku sebut Time Capsule itu. Kuserahkan bungkusan hijau miliknya dan bungkusan kuning milikku.

Aku membuka bungkusan ku, isinya foto kami saat lulus SMA dengan baju yang masih bersih dan sengaja kutulis dibawah fotonya "tidak ada yang boleh mengotori persahabatan ini. Aku tersenyum dan memberikan foto itu pada Rave. Ya.. foto itu seharusnya berada pada Rave. Aku menikmati setiap saat persahabatan kami. hingga saat ini. isi bungkusanku hanya foto itu dan sebuah surat kecil.

Setahun kemudian,
Waktu berlalu. Kita berhasil menangkapnya dalam kapsul ini, paling tidak kita tidak termakan waktu, karena ada alasan untuk tetap ADA. Ada hal yang bisa saja kita lupa, karena mungkin terlalu banyak hal penting untuk di ingat. 
Terima kasih mau menangkap waktu bersamaku Rave.

Surat itu kuberikan pada Rave. Rave tak membacanya, kemudian berteriak.
"Dish, gue punya uang seratus rebu lagi..." ucapnya menunjukkan uang seratus ribuan yang disimpannya setahun lalu.
"Tunggu ada tulisannya." ucap rave, kami melihat secarik post it yang ditempeldi uang tersebut.
"20% milik Ladisha " Hahaha aku tertawa, setahun lalu Rave punya janji akan membelikanku eskrim cokelat kalau Time Capsule ini berhasil. kemudian kurebut surat yang sedari tadi tak dibuka oleh Rave.

Setahun lagi. 
Kalau memang surat ini berhasil disimpan dan tidak hilang.
itu mungkin Ladisha yang menyimpannya. 
ini kegilaan Ladisha.
Impianku, aku harus menang Lomba Karya Tulis. 

Itu saja? Pikirku, apa lagi yang kuinginkan. huuhh aku menghembuskan nafas panjang.

"Gak piutis.." ucapku.

Rave menarik suratnya, "Gue bukan penulis fiksi kayak elo, yang gue tulis yang apa adanya."


Senin, 08 Oktober 2012

Ladisha : The Script 2

Di suatu tempat, Disuatu masa.

Suatu hari nanti Rave, kau akan bahagia. bukan denganku. entah dengan siapapun itu. mungkin Fira.
tapi siapapun dia percayalah, ada sekeping hatiku disana. untuk tetap mencintaimu.
Suatu hari nanti saat kita telah sama sama dewasa, bukan lagi remaja yang labil, semoga kita masih bisa menyimpan mimpi mimpi kita. masih bisa tertawa saat lelucon konyol yang hanya kita berdua yang tau.
Aku pasti merindukan hal itu.
Kau tau, kebahagiaan seorang wanita adalah ketika ia bisa menikah dengan cinta pertamanya. Kau tau Rave? karena bagi wanita itu cinta pertamanya adalah cinta yang paling istimewa.
tapi bagi pria, menikah adalah waktunya berkomitmen pada wanita yang ia cintai terakhir kali.

Ada rahasia kecil yang setiap orang sembunyikan.
"We all have secrets. The ones we keep, and the ones that are kept from us" - The Amazing Spiderman
tapi suatu saat rahasia itu akan diketahui, Rave. Seperti yang kau bilang. Rahasia itu ada untuk diketahui. benar kan Rave?

Seperti yang selalu kau ajarkan padaku, waktu bisa jadi segalanya. Mungkin kali ini waktu akan membukakan rahasiaku untukmu.
Aku ingin menjadi cinta terakhirmu Rave, kau tau kenapa? karena kau yang pertama membuka sangkar kupu kupu itu. menyebabkan geli di hatiku.

Tentang Sato. Sebenarnya dia tidak pernah ada. Aku hanya mengambilnya dari nama belakangmu. Revan Satria Sasongko. Sat-o

Setiap seniman memiliki sumber inspirasi, mungkin suatu saat aku akan berhenti menulis ketika aku kehilangan inspirasiku. Kau tahukan nama dinovelku selalu Sato? Setiap bersamamu selalu ada yang pantas untuk dibagikan ke dunia.

Sepuluh tahun, aku tahu itu masa terindah yang dibagikan waktu padaku.

Tentang Kita. Agar tak termakan waktu. 





Minggu, 07 Oktober 2012

Ladisha : The Script

"Sato" bisik Alita
Sato terdiam. tak menyangka kalau Alita juga ada disana. Alita mengenakan jacket merah maroon, warna favoritnya. Alita mendekati Sato menunjukkan jam kecil pemberian Sato yang berbentuk kalung.
" Kau benar, waktu bisa menjadi segalanya" ucap Alita.
"Diantara sekian manusia, sejuta tempat, dan banyak malam. kenapa justru malam inikau dan aku berada disini? tidakkah kau pikir ini permainan waktu?"
Sato membuka mulut hendak berbicara, Alita memotongnya dengan cepat.
"Waktu itu seperti mesin bergerak To. Benar, seperti bandul jam ini. semua komponennya bergerak tak berhenti untuk berputar terus menerus. karena kalau sedetik saja salah satu geriginya berhrnti. dia tidak akan berhasil menunjukkan waktu" ucap Alita tegas.
Dan kemudian, Alita meninggalkan Sato. Berdiri terpaku menatapnya sebelum kemudian seorang perempuan memanggilnya dari belakang.
"Papa...." ucap perempuan kecil itu bersama seorang wanitadengan terusan hijau tosca.

Alita mendengar panggilan perempuan kecil itu. tanpa menoleh ia berbisik pada dirinya sendiri.
"Waktu benar-benar bisa membuka semua yang tersembunyi" 
Air matanya mulai mengganggu pengelihatannya.

Ladisha menutup notebooknya. Sudah mencapai ending yang dia inginkan. Cerpen miliknya kali ini sangat ia harapkan terbit di majalah perempuan. Hanya karena Ladisha butuh sekali uang untuk membeli sesuatu. Untuk Rave.

Cerpen ini dari Rave dan untuk Rave, Ladisha banyak mengutip kata-kata Rave. Jadi apa salahnya Ladisha memberikan sesuatu untuk sahabatnya itu. Ladisha langsung mengambil ponselnya ketika terdengan suara getaran.

Sorry Dish, gw gak bisa nemenin lo. Gw mw jemput Fira.

R-Ave

Ladisha menghela nafas panjang. menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur dan menggumam.
"Bodoh, kenapa aku lupa jadwal Rave menjemput Fira"


Jumat, 28 September 2012

Prologue : Time Capsule




Ladisha menggenggam tangan perempuan muda itu.
“Kau tau?” bisiknya
“waktu selalu bisa melakukan apapun.”
“Apa saja?” Tanya perempuan itu.
“Ya. Waktu bisa menjadi kunci, menjadi obat, menjadi penentu apakah kau memang berjodoh dengannya atau tidak.”  Mata Ladisha masih memandang jauh ke langit senja di beranda rumahnya. Rumah bergaya minimalis itu memiliki beranda dan taman kecil.
Ladisha mengambil sepotong cake pisang buatan cucunya. Sama seperti lalu lalu, Ladisha memoleskan sedikit cokelat kemudian menikmati cake pisang itu.
“masih sama seperti dulu rasanya” ucap ladisha entah pada perempuan itu entah hanya bergumam.
“Kau tahu tentang Revan?” Tanya Ladisha.
“Perempuan muda itu menggeleng, alisnya berkertut tak mengerti. Tapi wajah sendu Ladisha bersinar.

Kamis, 27 September 2012

(Blurb) Time capsule


Kita hidup di garis tangan kita, bersisian, berbagi, tapi tak pernah saling menyentuh. 
Kau bilang waktu yang akan menentukan.
Kau bilang waktu akan memberi ruang yang tepat. 
Aku selalu percaya, hingga ternyata waktu juga mampu membuatnya menjadi pudar. 
Garis mu perlahan memudar hingga hilang tak dapat kutemukan.
Mungkin waktu pernah tidak tepat.
"Time Paradox" katamu
kita dipermainkan oleh falsafah lama tentang kesabaran pada waktu yang kau bilang tepat.

Senin, 15 Agustus 2011

Gadis penjual jus


Aku tergopoh gopoh membawa beberapa jus yang akan dijual hari ini. Cukup banyak yang harus dihabiskan dan membawa beberapa uang untuk makan malam hari ini. Hanya saja sedikit keterlambatan membuat aku sedikit pesimis. Tak hanya itu, langit yang terlihat sedikit gelap dan berat -begitu ungkapanku menjelaskan langit yang siap menurunkan hujan- aku melenguh kesal dan putus asa.

“hufhhhh……”

Kulangkahkan kaki perlahan berusaha tetap tegas dan tersenyum seperti biasa. Sambil menjajakan daganganku, aku tersenyum pada beberapa orang yang melintas. Meskipun kadang aku harus sedikit kesal karena tidak ada respon yang berarti atau hanya sekedar menggelengkan kepala saat aku menawari mereka.

Aku harus bergegas mengantarkan pesanan ibu di ujung jalan, sebelum langit memuntahkan airnya. Kupercepat langkah kakiku. Sambil tetap menawarkan daganganku. Belum ada hasil. Aku menarik nafas panjang. Lelah. Fiiiuuhhh..

Kuketuk pintu rumah ibu itu dan memberikan pesanannya. Kemudian mengucapkan terimakasih karena dia akan memesan lagi buat esok. Kulangkahkan kaki pergi meninggalkan rumahnya. Rintik hujan sudah membasahi tanganku yang membawa jus jualanku. Tetesan hujan pertama, kedua, ketiga… ahh tidak.. semakin deras. Aku mencari tempat berlindung. Bukan untuk menyelamatkan  diriku dari terpaan hujan yang seolah tidak merestuiku atas keterlambatanku berjualan hari ini. Tapi melindungi daganganku. Bagaimana menghabiskan jualan sebanyak ini jika aku tetap diam disini. Pikirku. Aku hanya terdiam. Bingung.

Kemudian datanglah dia, tidak begitu tampan tapi cukup menarik. Aku hanya berharap dia mau membeli daganganku meski hanya satu. Kucoba menawarkan kepadanya. Dengan senyum yang sedikit kupaksakan karena udara sangat dingin memaksaku menggigil. Dia tersenyum. Manis. Kemudian bertanya “berapa satu gelas?” kusebutkan harganya dan akhirnya dia membli beberapa. Aku bersukur dan berterima kasih padanya sambil berusaha menetralisir perasaanku yang bereaksi berlebihan melihat dia.
Hujan belum juga reda. Sementara, aku semakin kedinginan. Dia mengeluarkan ponselnya, yang kuperhatikan adalah keluaran terbaru. Yang pasti juga tidak mungkin kubeli dari hasil penjualanku selama setahun. Kemudian dia berbicara sepertinya dengan ibunya. Bukan bermaksud menguping hanya saja terdegar secara tidak sengaja.

“iya ma.. Arya kejebak hujan. .. iya.. bentar lagi…. Arya langsung pulang kok….” Dia tersenyum .. tulus.  Seperti membayangkan ibunya ada dihadapannya sekarang. Ah manisnya dia.

Tak kuduga dia melihatku yang sedikit mencuri pandang karahnya. Kemudian melanjutkan berbicara diponselnya “mama mau Jus?.... emhh” kemudian bertanya kepadaku. “ada jus apa lagi dik?” Aku menyebutkan beberapa yang ada di keranjangku.  “iya.. gak pake es kan ma… Om Danu?  Ika? oke… da mama”

Kemudian dia membeli beberapa lagi. Mungkin ada tamu, pikirku. Berkurang cukup banyak. Aku berterima kasih kepada pria baik ini. paling tidak beberapa terjual hari ini dan aku tidak pulang dengan tangan kosong.
Hujan sudah sedikit mereda. Reda sedikit lagi aku akan lanjut berjalan. Pikirku sambil menutupi daganganku. Dia masih disana. Dengan ponselnya. Masih terlihat segar dengan tetes air yang tinggal dirambutnya meskipun  kaos Hijau mudanya sedikit basah…..

Aku memuruskan menerobos hujan yang tinggal rintik rintik. Sebelum aku beranjak, sebuah mobil sedan menepi kearah ku berteduh. Tepatnya kea rah dia, Arya. Seorang perempuan duduk dibelakang kemudi. Cantik dengan rambut ikal yang digelung rapi dan  tersenyum. Cantik. Sangat sangat cantik. Dan….
“sayaaang.. ayo cepet masuk.. mama nyuruh aku jemput kamu” ucap perempuan itu. Arya tersenyum.
Sambil membawa beberapa jus yang dibelinya tadi dia masuk ke mobil itu. Dan .. ah mereka tertawa.  indahnya

“ Dik, mau ikut?” Tanya dia. Aku menggeleng cepet. Mengingat daganganku yang masih harus ku jajakan. “terima kasih mas.. mbak” ucapku padanya dan pada perempuan itu. Perempuan itu pun tersenyum. Sempurna, benar benar pasangan yang sempurna, pikirku.

Aku melangkahkan kaki menembus hujan yang meninggalkan titik titik gerimis. Dengan ucap syukur dan kesadaran aku tersenyum. Mungkin aku tidak pantas mengaguminya. Bahkan menyimpan rasa.  Dia begitu sempurna. Sedang aku hanya gadis penjual jus…

Aku melangkah lagi. Kembali kedalam kenyataan…..